Kasus influenza tipe A pada anak menjadi perhatian setelah sejumlah rumah sakit di Surabaya melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan yang mengarah pada influenza. Di RS Husada Utama Surabaya, misalnya, ruang perawatan anak dan instalasi gawat darurat dilaporkan dipenuhi pasien dalam sepekan terakhir, dengan mayoritas pasien merupakan anak-anak.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti semua anak yang mengalami influenza A harus menjalani perawatan di rumah sakit. Sebagian anak dengan gejala ringan masih dapat menjalani perawatan di rumah selama kondisinya stabil dan tidak menunjukkan tanda bahaya.
Dokter Spesialis Anak Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K), menjelaskan bahwa orang tua perlu melihat kondisi anak secara keseluruhan, bukan hanya berpatokan pada demam atau batuk.
Kapan Anak dengan Influenza A Perlu Dibawa ke Rumah Sakit?
Anak yang masih aktif, mampu berinteraksi, mau makan dan minum, serta bernapas dengan normal umumnya masih dapat dipantau di rumah sesuai arahan tenaga kesehatan.
Sebaliknya, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis apabila anak mengalami perubahan kondisi yang mengarah pada komplikasi.
Beberapa tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain napas cepat atau sulit bernapas, tarikan dinding dada saat bernapas, bibir atau wajah tampak kebiruan, anak sulit dibangunkan atau tidak responsif seperti biasanya, kejang, nyeri dada, serta tanda dehidrasi. Tanda-tanda tersebut juga tercantum dalam panduan CDC mengenai komplikasi influenza pada anak.
1. Waspadai Napas Cepat dan Sesak
Gangguan pernapasan merupakan salah satu tanda yang paling penting untuk diperhatikan ketika anak mengalami influenza.
Orang tua dapat mengamati apakah napas anak menjadi lebih cepat dari biasanya atau terlihat bekerja keras saat bernapas. Pakaian anak dapat dibuka agar gerakan dada dan perut lebih mudah diamati.
Tarikan pada sela-sela iga atau bagian antara dada dan perut ketika anak bernapas dapat menjadi tanda adanya penggunaan otot bantu napas. Jika kondisi semakin berat hingga bibir atau wajah terlihat kebiruan, anak membutuhkan pertolongan medis segera.
2. Anak Tidak Mau Minum Bisa Mengalami Dehidrasi
Selain gangguan pernapasan, asupan cairan juga harus menjadi perhatian. Influenza pada anak dapat disertai muntah atau diare, sehingga risiko kekurangan cairan meningkat.
Orang tua dapat memantau frekuensi buang air kecil sebagai salah satu indikator sederhana. Anak yang jauh lebih jarang buang air kecil, mulutnya kering, tidak mengeluarkan air mata ketika menangis, atau tidak buang air kecil dalam waktu lama perlu mendapatkan perhatian medis.
CDC memasukkan tidak buang air kecil selama sekitar delapan jam, mulut kering, dan tidak adanya air mata ketika menangis sebagai tanda dehidrasi yang membutuhkan penanganan segera pada anak dengan influenza.
Karena itu, jangan menunggu sampai anak benar-benar lemas untuk mencari pertolongan jika asupan cairan terus berkurang atau tanda dehidrasi mulai muncul.
3. Perhatikan Pola Demam
Demam merupakan salah satu gejala yang sering muncul pada influenza. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan perjalanan demam dari hari ke hari.
Jika demam atau batuk sempat membaik tetapi kemudian kembali muncul atau justru semakin berat, kondisi tersebut perlu diperiksakan. Pola seperti ini termasuk salah satu tanda peringatan komplikasi influenza.
Selain influenza, demam pada anak di Indonesia juga dapat disebabkan berbagai infeksi lainnya. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap setiap demam sebagai influenza tanpa pemeriksaan, terutama jika kondisi anak semakin memburuk.
4. Anak Terlihat Sangat Lemas atau Tidak Responsif
Perubahan perilaku juga perlu menjadi perhatian.
Anak yang biasanya aktif tetapi kemudian terlihat sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau berinteraksi, atau mengalami penurunan kesadaran perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Kejang juga termasuk tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan segera.
Orang tua sebaiknya tidak hanya melihat angka suhu tubuh. Kondisi umum anak, kesadaran, kemampuan minum, serta pola pernapasan merupakan bagian penting dalam menentukan apakah anak masih aman dipantau di rumah.
5. Bayi dan Anak dengan Kondisi Tertentu Perlu Lebih Waspada
Kelompok usia tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza. CDC menyebut anak berusia di bawah lima tahun, terutama di bawah dua tahun, sebagai kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza.
Bayi yang masih sangat kecil juga membutuhkan perhatian khusus. Pada bayi berusia di bawah 12 minggu, demam merupakan alasan untuk segera mendapatkan penilaian medis.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan pada anak yang memiliki kondisi medis tertentu, termasuk penyakit kronis atau gangguan sistem kekebalan tubuh. Pada kelompok berisiko, konsultasi dengan dokter sejak awal munculnya gejala dapat membantu menentukan pemeriksaan dan penanganan yang diperlukan.
Perawatan di Rumah Tetap Bisa Dilakukan Jika Gejala Ringan
Tidak semua anak yang terkena influenza membutuhkan rawat inap. Jika kondisi anak relatif baik, masih mau makan dan minum, tetap berinteraksi, serta tidak mengalami gangguan pernapasan, perawatan di rumah dapat dilakukan sambil terus memantau perkembangannya.
Istirahat cukup dan menjaga asupan cairan menjadi bagian penting selama masa pemulihan. Obat untuk meredakan gejala sebaiknya diberikan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Pada anak dengan risiko komplikasi lebih tinggi, dokter dapat mempertimbangkan obat antivirus influenza. CDC menyebut obat antivirus dapat menjadi pilihan pengobatan pada anak dengan influenza dan manfaatnya lebih besar bila diberikan sedini mungkin sesuai penilaian dokter.
Yang terpenting, orang tua perlu mengenali perubahan kondisi anak. Napas, kemampuan minum, buang air kecil, tingkat kesadaran, dan pola demam dapat menjadi indikator penting untuk menentukan kapan anak membutuhkan pemeriksaan medis.
Jika muncul sesak atau napas cepat, tarikan dinding dada, bibir kebiruan, dehidrasi, kejang, penurunan kesadaran, atau kondisi anak memburuk, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis.(Rhz2797)

