-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sumur Gedhe Bayat Klaten Ternyata Bukan Sumur Biasa, Ada Terowongan Bawah Tanah Peninggalan Belanda

September 20, 2026 Last Updated 2026-09-20T04:42:54Z

 


Sumur Gedhe Bayat Bukan Sekadar Sumur Tua


Bataranews– Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memiliki sejumlah peninggalan bersejarah yang menarik perhatian, salah satunya Sumur Gedhe atau luweng di kawasan Gunung Pegat, Desa Jotangan, Kecamatan Bayat.


Bangunan yang sekilas terlihat seperti sumur tua tersebut ternyata berkaitan dengan jaringan saluran air bawah tanah peninggalan era kolonial Belanda.


Salah satu luweng di kawasan tersebut disebut memiliki diameter sekitar 10 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter hingga mencapai bagian saluran air di bawahnya.


Ukuran yang cukup besar membuat bangunan tersebut berbeda dari sumur pada umumnya.


Lima Luweng Terhubung dengan Saluran Air Bawah Tanah


Keunikan kawasan Sumur Gedhe tidak hanya terletak pada ukurannya. Di sekitar Gunung Pegat terdapat lima luweng yang menjadi bagian dari sistem saluran air bawah tanah.


Tiga luweng memiliki bentuk bulat dengan dinding tembok berundak, sedangkan dua lainnya berbentuk kotak.


Kelima bangunan tersebut berkaitan dengan jaringan terowongan yang menembus kawasan Gunung Pegat.


Menurut keterangan yang dikaitkan dengan Dinas Kebudayaan Klaten, pembangunan jaringan saluran air tersebut dimulai sekitar 1911 dan diperkirakan selesai pada 1924.


Terowongan tersebut memiliki panjang sekitar 1 hingga 1,5 kilometer dan digunakan untuk mengalirkan air dari kawasan Rawa Jombor menuju sejumlah wilayah di sekitarnya, termasuk Cawas dan Pedan.


Dibangun untuk Mendukung Irigasi dan Aktivitas Ekonomi


Pada masa itu, keberadaan jaringan pengairan memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat dan kegiatan ekonomi.


Air yang dialirkan melalui terowongan dimanfaatkan untuk mendukung pengairan lahan pertanian serta kebutuhan kawasan industri gula yang berkembang pada masa kolonial.


Keberadaan luweng juga memiliki fungsi teknis. Lubang-lubang vertikal tersebut dapat menjadi akses untuk melakukan pengawasan terhadap saluran sekaligus membantu sirkulasi udara di dalam jaringan terowongan.


Dengan demikian, Sumur Gedhe bukan hanya sebuah bangunan yang dibuat untuk mengambil air, melainkan bagian dari sistem pengelolaan air yang cukup kompleks.


Menembus Gunung Pegat dengan Konstruksi Berbeda


Bagian terowongan yang berada di bawah Gunung Pegat disebut memiliki konstruksi yang berbeda-beda.


Sebagian jalurnya menggunakan dinding tembok, sedangkan bagian lainnya memanfaatkan batuan alami yang terdapat di dalam kawasan perbukitan.


Panjang bagian terowongan yang memiliki konstruksi berdinding tembok disebut mencapai sekitar 500 meter.


Ada pula cerita masyarakat yang menyebut proses pembangunan terowongan menggunakan teknologi pada zamannya, termasuk bor dan dinamit untuk menembus kawasan perbukitan.


Namun, detail teknis mengenai metode pembangunan tersebut masih membutuhkan penelusuran dan dokumentasi sejarah lebih lanjut agar dapat dipastikan secara menyeluruh.


Jejak Sejarah Irigasi Klaten yang Masih Bertahan


Usianya yang telah mendekati satu abad membuat Sumur Gedhe dan jaringan luweng Gunung Pegat menjadi bagian menarik dari sejarah pengelolaan air di Klaten.


Di balik bentuknya yang sederhana, peninggalan tersebut memperlihatkan bagaimana sistem pengairan pernah dirancang untuk membawa air melewati kawasan perbukitan menuju daerah pertanian dan pusat aktivitas ekonomi.


Saat ini, yang terlihat dari permukaan mungkin hanya sebuah lubang besar di kawasan hijau.


Namun di bawahnya terdapat jaringan saluran air yang menjadi saksi perkembangan teknologi pengairan pada masa lalu.


Sumur Gedhe di Bayat pun bukan hanya menarik karena bentuknya yang tidak biasa. Bangunan tersebut juga menyimpan cerita tentang hubungan antara air, pertanian, teknologi, dan perkembangan ekonomi Klaten pada masa kolonial.


Bagi wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan destinasi yang tidak biasa, kawasan Gunung Pegat menawarkan sisi lain Kabupaten Klaten yang berbeda dari wisata umbul yang selama ini lebih dikenal masyarakat.