Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sakit Hati Wanita Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

Februari 21, 2024 Last Updated 2024-02-21T07:19:53Z


Hampir setiap Muslim mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah sebagai pendamping hidup. Dari wanita itu, Nabi Muhammad memiliki sejumlah anak, di antaranya adalah Fatimah az-Zahra, yang kemudian dinikahkan dengan sahabat Ali bin Abi Thalib.


Khadijah membersamai Rasulullah hingga akhir hayat. Setelah itu, Nabi Muhammad menghadapi berbagai cobaan yang dahsyat, yang mungkin belum tentu dapat dihadapi orang biasa. 


Bayangkan, ketika khusyuk beribadah di Masjidil Haram, tiba-tiba Nabi Muhammad dilempar kotoran najis sehingga ibadahnya menjadi batal. Dan ketika itu, tak ada lagi pendamping hidup yang sehebat Khadijah membersamai sang Nabi. 


Putra Abdullah dirundung kesedihan yang dahsyat, sehingga Allah menurunkan Malaikat Jibril untuk menjemputnya, dan memandu sang nabi melakukan perjalanan spiritual menuju masjid nun jauh (Masjid al Aqsa) dan lanjut menghadap Allah.


Sang idaman pertama


Namun siapa sangka, sebelum Khadijah binti Khuwailid, ternyata ada wanita yang pertama kali dicintai Nabi Muhammad. Dia adalah gadis yang sejak kecil sudah disaksikan Rasulullah, bahkan ikut membersamai Rasulullah tumbuh dewasa.


Wanita itu bernama Fakhitah binti Abi Thalib. Dia adalah putri paman Nabi, Abu Thalib, sepupu Nabi Muhammad. Sejarah mencatat wanita itu dipanggil dengan sebutan Ummu Hani’. 


Ketika beranjak dewasa, Nabi Muhammad sungguh mencintainya. Dia bahkan sempat mendatangi Abu Thalib untuk melamar wanita itu, tapi sang paman menolak lamaran Muhammad.


Sang Paman lebih memilih menikahkan Ummu Hani dengan seorang pria dari Bani Makhzum untuk mempertahankan hubungan baik dengan kelompok tersebut. Boleh dibilang ini merupakan pernikahan politis. Pernikahan yang pada mulanya tidak didasari oleh cinta yang tulus.


Pria itu bernama Hubayroh. Dari pernikahan itu, Ummu Hani memiliki empat orang anak. Kelak mereka tumbuh dewasa dan menyaksikan Nabi Muhammad berdakwah dan membangun perubahan besar di Hijaz.

   

Titik awal perubahan itu adalah pembebasan Makkah atau Fathu Makkah. Pada waktu itu, pasukan Nabi Muhammad dengan mudah masuk Makkah dan membersihkan Ka’bah dari berhala. Kemudian orang-orang berduyun-duyun memeluk Islam. Lalu Allah menurunkan wahyu Surah an-Nashr yang memerintahkan semua orang bertasbih ketika menyaksikan banyak orang memeluk Islam.


Ketika itu, Nabi Muhammad mendengar kabar Ummu Hani. Putra Abdullah itu langsung mendatangi wanita yang pernah menjadi pujaan hatinya itu. Saat ditemui Nabi Muhammad, Ummu Hani sudah ditinggalkan suaminya yang kabur ke arah Yaman, karena kalah menghadapi pasukan umat Islam.


Ketika itu Nabi Muhammad menawarkan wanita itu untuk menjadi istri sang nabi. Tapi Ummu Hani menolak pinangan tersebut. Sebab Ummu Hani mengkhawatirkan keadaannya yang sudah tua akan mengganggu mobilitas Nabi Muhammad berdakwah.


Sakit hati


Cinta mereka pun kandas. Nabi Muhammad menjalani kehidupannya. Sedangkan Ummu Hani menjalani masa tua bersama anak-anaknya.


Nabi Muhammad wafat terlebih dahulu. Sedangkan Ummu Hani masih hidup menyaksikan perpecahan umat Islam yang luar biasa hebat.


Perpecahan itu mulai terjadi pada masa Umar bin Khattab yang wafat tidak wajar. Kemudian hal sama juga dialami khalifah selanjutnya Utsman bin Affan. Lalu berlanjut hingga adik Ummu Hani, Ali bin Abi Thalib, wafat dibunuh ekstremis.


Kematian sang adik sungguh menyakitkan hati Ummu Hani. Dia tak menyangka saudara kandungnya akan wafat tak wajar di tengah perpecahan Umat Islam menjadi beberapa golongan.


10 tahun dia menyimpan kesedihan dan sakit hati itu, hingga akhirnya wafat pada Tahun 50 Hijriyah, tahun yang sama dengan keponakannya, Hasan bin Ali, tutup usia, atau sebelas tahun sebelum wafatnya Husain bin Ali yang dibantai di Karbala.


Duka Ummu Hani merupakan pertanda Umat Islam dirundung duka berkepanjangan karena nafsu kekuasaan duniawi, nafsu yang membuat sesama Muslim ketika itu saling membunuh, dan tercerai berai.

×