Bencana banjir yang melanda Kabupaten Bireuen, Aceh, terus menunjukkan dampak memprihatinkan. Hingga Selasa pagi, 2 Desember 2025, sejumlah ruas jalan strategis nasional di Kecamatan Peusangan Raya masih tertutup lumpur tebal. Arus lalu lintas melambat karena material lumpur dan debu yang beterbangan.
Di sepanjang jalur Peusangan Raya, berbagai barang rumah tangga seperti kursi hingga batang pohon kelapa tampak berserakan. Beberapa alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur yang menumpuk di pinggir jalan.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah rumah tampak kosong dan tidak layak huni. Halaman rumah warga dipenuhi tanah cair yang terbawa banjir. Kondisi serupa juga terlihat di Kecamatan Jangka, Bireuen. “Sudah lima sampai enam hari rumah saya terendam tanah,” ujar Dedi Adi, warga Desa Ule Ceu.
Di wilayah lain di Kabupaten Bireuen, bencana semakin memperparah situasi setelah jembatan yang menghubungkan Kecamatan Juli dan Tekangon terputus. Kerusakan ini membuat kawasan Tekangon benar-benar terisolasi. Warga kesulitan mendapatkan pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Petugas kecamatan, tenaga kesehatan puskesmas, serta sejumlah organisasi masyarakat berupaya menyalurkan bantuan ke Tekangon menggunakan kereta gantung darurat. “Obat yang paling banyak dicari masyarakat adalah parasetamol dan obat mencret,” jelas Jepang Puspitasari, petugas Puskesmas Juli.
Sejak 25 November, banjir dan longsor melanda sejumlah daerah di tiga provinsi di Sumatera. Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sedikitnya 604 orang meninggal dunia. Di Aceh saja, hingga Ahad sore, tercatat 96 warga meninggal dan 75 lainnya masih hilang. Korban tersebar di Bener Meriah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, hingga Nagan Raya.
Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 62.000 kepala keluarga di berbagai kabupaten/kota. Banyak dari mereka membutuhkan bantuan logistik mendesak, mulai dari air bersih, makanan siap saji, hingga obat-obatan. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan BNPB untuk mempercepat proses evakuasi dan pemulihan.

