-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kisah Haru Harmoko, Petugas Damkar Bandung: 8 Tahun Bertarung dengan Api hingga Kehilangan Rekan di Depan Mata

Desember 01, 2025 Last Updated 2025-12-01T10:47:33Z



Delapan tahun mengabdikan diri sebagai petugas pemadam kebakaran bukanlah perjalanan yang mudah bagi Harmoko (32), anggota Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung. Sejak bergabung pada 2017, pria yang akrab disapa Moko ini mengaku tak pernah membayangkan bahwa profesi yang ia jalani akan penuh risiko sekaligus membawa kebanggaan yang begitu besar.


Awalnya, Harmoko mengira tugas pemadam hanya sebatas memadamkan api. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa profesi fire fighter jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan.


“Awalnya saya enggak kepikiran bisa jadi damkar. Pikirnya cuma memadamkan api saja. Setelah banyak kejadian, bareng tim, saya baru dapat banyak pengalaman,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).


Tantangan di Luar Kebakaran: Evakuasi hingga Misi Penyelamatan Ekstrem


Menjadi petugas Damkar membuat Harmoko berhadapan dengan berbagai situasi darurat yang tidak selalu berkaitan dengan kebakaran. Mulai dari evakuasi orang, penyelamatan hewan, hingga membantu warga dalam kondisi ekstrem yang tidak mampu mereka tangani sendiri.


“Ternyata nyelamatin orang itu bukan hanya tentang kebakaran. Bisa dari evakuasi orang sampai konteks yang di luar kemampuan mereka. Dari situ saya terpacu, seru banget tantangannya,” ungkapnya.


Sebagai seseorang yang menyukai tantangan, justru hal-hal inilah yang menjadi alasan ia semakin mencintai profesinya.


Kehangatan Masyarakat Jadi Sumber Energi


Meski penuh risiko, Harmoko mengaku bahwa doa dan ucapan terima kasih dari masyarakat adalah motivasi terbesar yang membuatnya terus bersemangat.


“Banyak doa-doa baik yang saya terima ketika bekerja. Itu yang bikin saya termotivasi untuk selalu membantu masyarakat.”


Kedekatan dengan warga dan apresiasi tulus yang ia terima menjadikan profesi ini tidak sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian yang membekas di hati.


Duka Mendalam: Menyaksikan Rekan Gugur dalam Tugas


Tidak hanya suka, dunia pemadam kebakaran juga menyimpan luka. Harmoko mengaku pernah kehilangan rekan satu tim yang gugur saat menjalankan tugas.


“Ada rekan saya yang meninggal dunia tertimpa reruntuhan. Ada juga yang sesak napas atau sakit jantung akibat kejadian kebakaran. Bahkan ada yang cacat permanen.”


Pengalaman menyaksikan langsung rekannya tiada menjadi luka yang sulit dilupakan. Namun justru dari situ ia semakin menghargai arti keberanian dan solidaritas di antara para petarung api.


Bangga Jadi Pahlawan bagi Keluarga dan Masyarakat


Harmoko merasa bangga saat melihat penghargaan yang datang dari lingkungan sekitar, termasuk keluarganya. Ia sering mendengar tetangga memuji istrinya karena memiliki suami yang menjadi petugas Damkar.


“Alhamdulillah, sekarang suaminya sudah jadi damkar,” begitu kata tetangga yang membuatnya merasa dihargai.


Baginya, ini adalah kebanggaan berlipat: menjadi pelindung masyarakat sekaligus membuat keluarganya bangga.


“Ujung–Ujungnya Damkar”: Simbol Kepercayaan Publik


Harmoko juga sering mendengar istilah UUD – ujung-ujungnya Damkar, yang menandakan masyarakat kini semakin percaya pada ketanggapan petugas pemadam.


Menurutnya, kepercayaan itu tumbuh karena Damkar selalu dituntut respons cepat dan bersikap fleksibel terhadap berbagai kondisi darurat.


“Kita digaji pemerintah, sudah disumpah untuk penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Lebih baik respon cepat dulu. Kalau penanganannya sulit, baru koordinasi dengan pihak terkait.”


Dedikasi Tanpa Pamrih


Meski penuh risiko dan tidak jarang menimbulkan rasa duka, Harmoko tetap menjalaninya dengan ikhlas. Bagi dirinya, setiap kebaikan yang ia berikan akan kembali menjadi keberkahan bagi keluarga.


“Hal-hal baik itu rezeki buat keluarga saya. Semoga mereka juga banyak yang membantu dan melindungi.”


Di balik seragamnya, Harmoko adalah gambaran nyata pengabdian tanpa pamrih. Ia adalah pahlawan bagi banyak orang—di jalanan, di tengah kobaran api, dan di rumahnya sendiri.

×