-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

10 Kebiasaan Saat Puasa Ramadan yang Perlu Dihindari demi Kesehatan Optimal

Februari 27, 2026 Last Updated 2026-02-27T06:24:16Z



Ramadan sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari meningkatnya sensitivitas insulin hingga membantu regulasi berat badan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa selama bulan Ramadan dapat memperbaiki profil metabolik pada sebagian orang dewasa sehat.


Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara otomatis. Cara seseorang menjalani puasa sangat menentukan dampaknya bagi tubuh. Perubahan pola makan, waktu tidur, serta ritme harian dapat memicu stres metabolik jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, penting untuk menghindari kebiasaan-kebiasaan berikut agar puasa tetap menyehatkan.


1. “Balas Dendam” Saat Berbuka


Berbuka dengan porsi besar serta makanan tinggi gula dan lemak dapat memicu lonjakan glukosa darah secara cepat. Lonjakan ini biasanya diikuti penurunan drastis (postprandial crash) yang menyebabkan tubuh kembali lemas dan cepat lapar. Pola seperti ini dapat membebani pankreas dan mengganggu kontrol gula darah, terutama bagi yang berisiko diabetes.


Sebaiknya berbuka secara bertahap: mulai dengan air putih dan kurma secukupnya, lalu lanjutkan dengan makanan utama yang seimbang.


2. Kurang Minum Air


Dehidrasi ringan saja dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, dan tekanan darah. Karena waktu minum terbatas saat puasa, asupan cairan harus dibagi dengan baik antara berbuka hingga sahur.


Kurang minum dapat memicu sakit kepala, konstipasi, hingga tekanan darah rendah. Biasakan minum air saat berbuka, setelah makan malam, sebelum tidur, dan saat sahur.


3. Melewatkan Sahur


Sahur membantu menjaga kadar glukosa darah tetap stabil sepanjang hari. Tanpa sahur, risiko hipoglikemia meningkat, terutama pada individu rentan. Selain itu, kebutuhan protein dan serat harian bisa tidak terpenuhi jika sahur dilewatkan.


4. Konsumsi Gula Berlebihan


Minuman manis, sirop, dan makanan penutup tinggi gula meningkatkan asupan gula bebas harian. Konsumsi gula berlebih secara berulang dapat menurunkan sensitivitas insulin dan meningkatkan kadar trigliserida dalam darah.


Batasi gula tambahan dan pilih makanan dengan karbohidrat kompleks serta serat tinggi.


5. Terlalu Banyak Makan Gorengan


Makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Selain itu, makanan berlemak tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung dan menyebabkan rasa tidak nyaman pada saluran cerna.


Mengganti gorengan dengan makanan yang dipanggang, direbus, atau dikukus adalah pilihan yang lebih sehat.


6. Kurang Tidur


Perubahan jadwal selama Ramadan sering membuat waktu tidur berkurang. Padahal, kurang tidur kronis berkaitan dengan gangguan metabolisme dan peningkatan risiko penyakit kardiometabolik.


Kurang tidur juga memengaruhi hormon lapar (grelin) dan hormon kenyang (leptin), yang dapat memicu makan berlebihan saat berbuka.


7. Minim Aktivitas Fisik


Sebagian orang mengurangi aktivitas fisik selama puasa. Padahal, rekomendasi aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu tetap berlaku.


Aktivitas ringan seperti berjalan kaki setelah berbuka dapat membantu menjaga kadar gula darah dan melancarkan pencernaan.


8. Konsumsi Garam Berlebihan


Asupan garam tinggi dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada individu yang sensitif terhadap natrium. Selain itu, makanan asin saat berbuka dapat membuat tubuh lebih mudah haus keesokan harinya.


Disarankan untuk membatasi konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari.


9. Minum Kafein Berlebihan di Malam Hari


Kopi atau teh dalam jumlah besar pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur. Kafein yang dikonsumsi mendekati waktu tidur dapat memperpanjang waktu untuk terlelap dan menurunkan kualitas istirahat.


Gangguan tidur yang berulang akan berdampak pada energi dan kontrol nafsu makan.


10. Mengabaikan Kondisi Medis Pribadi


Bagi penderita diabetes, hipertensi, atau penyakit kronis lainnya, konsultasi dengan dokter sebelum berpuasa sangat penting. Penilaian risiko individual membantu mencegah komplikasi serius selama Ramadan.


Puasa Ramadan dapat memberikan manfaat kesehatan jika dijalani dengan pola makan seimbang, cukup cairan, tidur berkualitas, dan aktivitas fisik teratur. Sebaliknya, kebiasaan yang kurang tepat justru dapat membebani metabolisme dan kesehatan jantung.


Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga kesempatan memperbaiki gaya hidup. Dengan pola yang tepat, manfaat ibadah dan kesehatan dapat berjalan seiring.

×