-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Buaya Muara Makin Berani Naik ke Darat, Warga Bangka hingga Bintan Diminta Siaga

Februari 12, 2026 Last Updated 2026-02-12T08:27:10Z



Konflik antara manusia dan buaya muara kembali menjadi sorotan setelah sejumlah insiden terjadi di wilayah Bangka Barat dan Bintan, Kepulauan Riau. Predator yang selama ini identik dengan habitat perairan kini dilaporkan semakin sering muncul hingga ke daratan dan mendekati permukiman warga.


Salah satu peristiwa terjadi di Desa Sekarbiru, Bangka Barat. Seorang warga bernama Karmin (49) diserang buaya saat berada di luar rumah pada dini hari. Korban selamat setelah melakukan perlawanan menggunakan kayu, namun mengalami luka di bagian kaki.


Kapolres Bangka Barat, AKBP Pradana Aditya Nugraha, mengeluarkan peringatan kewaspadaan tinggi menyusul laporan kemunculan buaya dari kolong atau kolam bekas tambang timah yang berada tak jauh dari permukiman warga. Aparat mulai memetakan titik rawan dan memasang imbauan keselamatan di sejumlah lokasi.


Situasi serupa juga terjadi di Bintan. BPBD setempat mencatat dalam empat tahun terakhir terdapat beberapa kasus serangan buaya, dengan korban jiwa dalam sejumlah insiden. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama nelayan dan warga yang beraktivitas di sekitar pesisir.


Faktor Penyebab Buaya Mendekati Permukiman


Sejumlah faktor diduga memicu meningkatnya interaksi berbahaya antara manusia dan buaya.


Pertama, kebiasaan membuang limbah sisa makanan berbau anyir ke perairan. Limbah dari rumah tangga, peternakan, maupun industri pengolahan hasil laut dapat menarik perhatian buaya karena dianggap sebagai sumber makanan mudah.


Kedua, perubahan kondisi lingkungan termasuk peningkatan suhu air yang dapat memengaruhi pola pergerakan satwa liar. Ketika habitat alaminya terganggu atau sumber makanan berkurang, buaya cenderung mencari alternatif di wilayah yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.


Imbauan dan Upaya Penanganan


Aparat dan otoritas kebencanaan mengimbau warga untuk:


Menghindari aktivitas di dekat perairan pada malam hari.


Tidak membuang limbah makanan ke sungai atau laut.


Meningkatkan kewaspadaan di sekitar kolam bekas tambang dan muara sungai.


Di Bintan, nelayan disarankan melaut setelah subuh untuk mengurangi risiko pertemuan dengan buaya yang aktif berburu pada malam hari.


Selain langkah pencegahan, pemerintah daerah didorong untuk berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) guna melakukan pemantauan dan, jika diperlukan, relokasi buaya yang berpotensi membahayakan.


Menjaga Keseimbangan Ekosistem


Meningkatnya konflik manusia dan buaya menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan dan aktivitas manusia turut memengaruhi perilaku satwa liar. Upaya jangka panjang tidak hanya soal evakuasi, tetapi juga pengelolaan lingkungan yang lebih baik agar habitat alami tetap terjaga.


Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama. Namun, pencegahan melalui perubahan perilaku dan pengelolaan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko di masa mendatang.

×