-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

GERHANA MATAHARI CINCIN 17 FEBRUARI 2026, FASE “CINCIN API” HANYA TERLIHAT DI ANTARTIKA

Februari 14, 2026 Last Updated 2026-02-14T07:36:23Z



Fenomena gerhana matahari cincin atau annular diprediksi terjadi pada 17 Februari 2026, sehari menjelang dimulainya bulan suci Ramadan yang diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026. Peristiwa ini menarik perhatian komunitas astronomi global karena menghadirkan tampilan khas berupa “cincin api” di langit, meski hanya dapat disaksikan secara langsung dari wilayah yang sangat terbatas.


Gerhana matahari cincin terjadi ketika bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari pada fase bulan baru. Namun, pada saat itu posisi bulan sedang berada di jarak yang lebih jauh dari Bumi dalam orbit elipsnya. Karena jarak tersebut, ukuran tampak bulan menjadi sedikit lebih kecil dibandingkan ukuran tampak Matahari. Akibatnya, bulan tidak mampu menutupi piringan Matahari secara penuh. Cahaya Matahari tetap terlihat mengelilingi tepi bulan dan membentuk lingkaran terang yang dikenal sebagai “cincin api”.


Dalam perhitungan astronomi untuk peristiwa kali ini, bulan diperkirakan akan menutupi sekitar 96 persen piringan Matahari pada puncak gerhana. Artinya, hanya sebagian kecil cahaya Matahari yang masih terlihat membentuk lingkaran tipis di sekeliling bayangan bulan.


Puncak gerhana diprediksi terjadi pada pukul 07.12 waktu setempat bagian timur Amerika Serikat (EST), atau sekitar pukul 19.12 WIB. Meski waktu kejadian dapat dihitung dengan presisi tinggi menggunakan model astronomi modern, tidak semua wilayah di dunia dapat menyaksikan fase cincin secara langsung.


Fase annular atau cincin hanya bisa diamati dari jalur khusus yang disebut jalur annularity. Jalur ini sangat sempit dibandingkan keseluruhan permukaan Bumi. Untuk gerhana kali ini, jalur annularity memiliki panjang sekitar 4.282 kilometer dan lebar sekitar 616 kilometer.


Menariknya, seluruh jalur annularity pada 17 Februari 2026 berada di wilayah terpencil Antartika. Kondisi ini menjadikan gerhana cincin tersebut sulit diakses dan minim saksi mata langsung. Wilayah yang dilintasi sebagian besar merupakan hamparan es dan daerah penelitian yang jarang dihuni manusia.


Laporan yang dikutip dari Mashable Indonesia menyebutkan bahwa fase cincin hanya akan terlihat dari Antartika. Informasi ini merujuk pada laporan dari Space.com yang menjelaskan detail jalur dan waktu kejadian.


Karena lokasi yang sangat terpencil, peluang masyarakat umum untuk menyaksikan langsung fenomena cincin api menjadi sangat terbatas. Tidak seperti gerhana-gerhana sebelumnya yang melintasi kota besar atau wilayah padat penduduk, gerhana kali ini praktis hanya bisa diakses oleh tim ilmuwan atau peneliti yang kebetulan berada di stasiun riset Antartika.


Meski demikian, sebagian wilayah lain tetap dapat menyaksikan gerhana dalam bentuk parsial. Gerhana parsial terjadi ketika hanya sebagian piringan Matahari yang tertutup oleh bulan. Dalam kondisi ini, Matahari tidak membentuk cincin sempurna, melainkan tampak seperti tergigit di salah satu sisinya.


Beberapa wilayah Antartika di luar jalur cincin, kawasan Afrika bagian selatan, serta wilayah selatan Amerika Selatan diperkirakan masih dapat melihat gerhana sebagian. Intensitas penutupan Matahari akan berbeda-beda tergantung posisi geografis pengamat terhadap jalur utama bayangan bulan.


Bagi masyarakat Indonesia dan wilayah Asia Tenggara lainnya, gerhana ini tidak dapat diamati secara langsung karena posisi geografis yang tidak berada dalam lintasan bayangan bulan saat kejadian. Namun, perkembangan teknologi memungkinkan publik global untuk tetap mengikuti fenomena ini melalui siaran langsung daring.


Platform siaran langsung biasanya disediakan oleh lembaga antariksa, observatorium, atau media sains internasional. Meski detail platform dan jadwal resmi siaran masih menunggu pengumuman lebih lanjut, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa peristiwa astronomi besar hampir selalu disiarkan secara global melalui internet.


Secara ilmiah, gerhana matahari merupakan fenomena yang terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus atau hampir segaris. Peristiwa ini hanya bisa terjadi pada fase bulan baru. Namun tidak setiap bulan baru menghasilkan gerhana, karena orbit bulan memiliki kemiringan sekitar lima derajat terhadap orbit Bumi mengelilingi Matahari.


Gerhana hanya terjadi ketika bulan berada di titik persilangan orbit yang disebut simpul, sehingga bayangannya benar-benar jatuh ke permukaan Bumi. Inilah sebabnya gerhana matahari tergolong fenomena periodik namun tidak terjadi setiap bulan.


Terdapat tiga jenis utama gerhana matahari. Pertama, gerhana matahari total, ketika bulan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga langit dapat berubah gelap seperti senja selama beberapa menit. Kedua, gerhana matahari sebagian, ketika hanya sebagian Matahari yang tertutup. Ketiga, gerhana matahari cincin, seperti yang akan terjadi pada 17 Februari 2026, ketika bulan tampak lebih kecil sehingga menyisakan cincin cahaya.


Gerhana matahari cincin sering kali dianggap kurang dramatis dibandingkan gerhana total, namun tetap memiliki nilai ilmiah dan visual yang tinggi. Fenomena cincin api memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari atmosfer Matahari serta efek cahaya pada lapisan atas atmosfer Bumi.


Kehadiran gerhana ini menjelang Ramadan juga menambah dimensi simbolik bagi sebagian masyarakat Muslim, meskipun secara astronomi tidak memiliki kaitan langsung dengan penentuan awal bulan hijriah. Penentuan awal Ramadan tetap mengacu pada metode rukyat dan hisab yang berbeda dengan perhitungan gerhana.


Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat akan keteraturan gerak benda-benda langit. Dengan bantuan matematika dan fisika, para astronom dapat memprediksi waktu dan lokasi gerhana hingga hitungan detik bertahun-tahun sebelumnya. Ketepatan ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemahaman manusia terhadap mekanika langit.


Meski tidak dapat disaksikan langsung dari Indonesia, masyarakat tetap diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari lembaga astronomi jika ingin menyaksikan siaran langsung. Selain itu, keselamatan mata harus menjadi prioritas utama. Mengamati Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina.


Kacamata khusus gerhana dengan filter standar internasional menjadi satu-satunya alat yang aman untuk observasi langsung. Alternatif lainnya adalah menggunakan metode proyeksi tidak langsung, seperti kamera lubang jarum.


Dengan segala keterbatasan lokasi pengamatan, gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 tetap menjadi peristiwa penting dalam kalender astronomi global. Meski fase cincin api hanya menghiasi langit Antartika, gema ketertarikan terhadap fenomena ini akan terasa di seluruh dunia melalui siaran dan laporan ilmiah.


Peristiwa ini menegaskan kembali bahwa alam semesta bergerak dalam pola yang teratur dan dapat diprediksi, menghadirkan momen-momen langka yang selalu dinanti oleh para pengamat langit di berbagai penjuru dunia.

×