Disadari atau tidak, pada masa lalu banyak masyarakat Jawa memiliki nama yang berawalan “Su” atau “Soe”. Nama seperti Sugeng, Sumitro, Sumarni hingga tokoh besar seperti Soekarno dan Soeharto menjadi contoh paling dikenal.
Lalu, apa makna di balik awalan tersebut?
Arti “Su” dalam Bahasa Jawa
Dosen sejarah dari Universitas Sebelas Maret, Susanto, menjelaskan bahwa kata “Su” dalam bahasa Jawa berarti baik atau indah. Nama pada masyarakat Jawa umumnya mengandung doa dan harapan orang tua kepada anaknya.
Hal serupa disampaikan Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro. Ia menuturkan bahwa “Su” memang bermakna baik, sementara penulisan “Soe” merupakan bentuk ejaan lama (van Ophuijsen) yang digunakan sebelum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Artinya, nama dengan awalan “Su” atau “Soe” mencerminkan harapan agar pemiliknya menjadi pribadi yang baik, indah, atau memiliki sifat terpuji.
Mengapa Kini Jarang Digunakan?
Seiring perkembangan zaman, penggunaan nama berawalan “Su” semakin jarang ditemukan, terutama pada generasi muda.
Menurut Purnawan, perubahan persepsi dan budaya masyarakat menjadi faktor utama. Nama-nama lama dianggap kurang modern atau kurang estetik dibandingkan nama-nama baru yang banyak muncul di televisi, media sosial, maupun budaya populer.
Akibatnya, tren penamaan pun bergeser mengikuti selera zaman. Meski demikian, nama-nama berawalan “Su” tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Jawa dan mencerminkan nilai filosofis yang kuat.

