-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kritik Pedas Ketua BEM UGM ke Rudy Mas’ud Viral, Sebut Kaltim Masuk “Fase Pembusukan”

Mei 07, 2026 Last Updated 2026-05-07T08:00:39Z



🏛️ Panggung Rakyat di Samarinda Jadi Sorotan


Bataranews – Aksi mahasiswa bertajuk Panggung Rakyat dan Diskusi Imajinasi Reformasi yang digelar BEM KM Unmul di Teras Samarinda, Rabu (6/5/2026), mendadak ramai diperbincangkan publik.


Kegiatan yang berlangsung di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur itu menjadi wadah kritik terbuka terhadap kondisi politik nasional maupun daerah.


Salah satu sorotan utama datang dari orasi Tiyo Ardianto yang menyampaikan kritik tajam terhadap penguasa hingga dinamika politik di Kalimantan Timur.


⚖️ Singgung Putusan MK dan Politik Nasional


Dalam orasinya, Tiyo menyoroti Constitutional Court Decision Number 90 of 2023 yang menurutnya menjadi contoh manipulasi konstitusi demi kepentingan politik.


Ia menilai putusan tersebut membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka menuju kursi wakil presiden.


“Hanya ada dua jenis manusia yang masih berprasangka baik pada penguasa hari ini: mereka yang bodoh atau mereka yang ikut menikmati kekuasaan,” ujar Tiyo di hadapan mahasiswa.


Pernyataan itu langsung mendapat respons riuh dari massa aksi.


💸 Kritik Politik Uang dan Modal Pilkada


Selain isu nasional, Tiyo juga mengulas soal Pemilu 2024 yang ia sebut sebagai pemilu brutal dengan biaya politik sangat besar.


Kritik itu kemudian diarahkan ke konteks Pilkada Kalimantan Timur dan figur Rudy Mas'ud.


Melalui simulasi sederhana, Tiyo mempertanyakan logika pengembalian modal politik yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.


Ia bahkan menyebut praktik politik uang berpotensi mendorong korupsi di masa depan.


Menurutnya, masyarakat harus sadar bahwa menerima uang politik bisa berdampak pada penyalahgunaan kekuasaan setelah pemilu selesai.


🧠 Soroti 47 Tenaga Ahli Gubernur


Tiyo juga menyinggung keberadaan 47 tenaga ahli di lingkaran pemerintahan Gubernur Kaltim.


Ia menilai jumlah tersebut justru menimbulkan pertanyaan besar terkait kapasitas kepemimpinan seorang kepala daerah.


“Apa bukti kebodohan Rudy Mas’ud? Jika dia butuh 47 tim ahli, berarti orang ini tidak punya keahlian apa-apa,” ucapnya dalam orasi.


Pernyataan tersebut kembali disambut sorakan mahasiswa yang hadir dalam aksi.


👑 Dinasti Politik Jadi Sorotan


Tak hanya itu, isu dinasti politik keluarga Mas’ud di Kalimantan Timur juga menjadi bahan kritik.


Tiyo menegaskan bahwa Indonesia adalah negara republik, bukan kerajaan yang dikendalikan keluarga tertentu.


Menurutnya, dominasi politik keluarga dalam pemerintahan justru dapat menjadi awal kehancuran dinasti itu sendiri.


✊ “Kaltim Ora Sepele”


Di akhir orasi, Tiyo memberikan apresiasi kepada gerakan mahasiswa Kalimantan Timur yang dinilainya semakin berani menyuarakan kritik.


Ia bahkan menyebut istilah:


“Kalau di Jawa ada istilah ‘Pati Ora Sepele’, maka hari ini ‘Kaltim Ora Sepele’.”


Pernyataan tersebut menjadi penutup orasi yang langsung disambut tepuk tangan dan sorakan massa aksi.


⚠️ Kritik Keras Jadi Sorotan Publik


Orasi Tiyo Ardianto kini ramai dibahas di media sosial karena dianggap berani dan frontal dalam mengkritik kondisi politik nasional maupun daerah.


Namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terkait pernyataan tersebut.


✅ Kesimpulan


Aksi mahasiswa di Samarinda berubah menjadi sorotan nasional setelah pidato Tiyo Ardianto viral di media sosial.


Kritik terhadap politik uang, dinasti kekuasaan, hingga penggunaan puluhan tenaga ahli gubernur memicu perdebatan publik tentang kondisi demokrasi dan tata kelola pemerintahan saat ini.