Bataranews– Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak menyoroti film dokumenter Pesta Babi yang membahas pelaksanaan Proyek Strategis Nasional di Papua.
Pertanyakan Sumber Dana Film
Dalam keterangannya usai rapat kerja bersama DPR, Maruli mempertanyakan sumber dana produksi film tersebut. Menurutnya, proses pembuatan dokumenter di Papua membutuhkan biaya besar.
Ia menyebut tim produksi harus melakukan perjalanan ke berbagai lokasi di Papua, termasuk menggunakan transportasi udara yang dinilai tidak murah.
“Orang sampai membuat video seperti itu, datang ke sana, terbang sana-sini, tentu membutuhkan biaya,” ujar Maruli kepada awak media.
TNI Sebut Program untuk Kepentingan Negara
Maruli menegaskan berbagai program yang dijalankan pemerintah dan TNI di Papua bukan untuk kepentingan institusi semata, melainkan bagian dari persiapan cadangan nasional dan pembangunan daerah.
Ia membantah anggapan bahwa program tersebut merugikan masyarakat setempat.
Menurutnya, banyak warga justru terbantu melalui pembangunan fasilitas dasar seperti akses air bersih dan layanan kesehatan.
Soroti Kondisi Daerah Terpencil
KSAD juga mengatakan masih banyak wilayah di Papua yang membutuhkan perhatian pemerintah, terutama daerah terpencil dengan keterbatasan infrastruktur.
Ia menyebut prajurit TNI turut membantu masyarakat melalui pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga pengamanan pembangunan.
Film Dokumenter Sempat Ramai
Film dokumenter Pesta Babi sebelumnya ramai dibicarakan publik karena menyoroti proyek pembangunan dan kondisi masyarakat di Papua.
Sejumlah agenda pemutaran bersama atau nonton bareng film itu juga sempat menuai kontroversi di beberapa daerah.
Kesimpulan
Pernyataan KSAD Maruli Simanjuntak menambah perhatian publik terhadap polemik film dokumenter Pesta Babi. Perdebatan mengenai isi film, pendanaan produksi, hingga isu pembangunan di Papua masih terus menjadi sorotan berbagai pihak.
