-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

⚖️🔥 Polemik Amien Rais vs Komdigi Soal Video Prabowo–Teddy Memanas, Meutya Hafid Anggap Provokatif

Mei 03, 2026 Last Updated 2026-05-03T08:03:58Z



Bataranews– Ketegangan antara Amien Rais dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kembali memanas setelah muncul polemik terkait konten video yang menyinggung hubungan antara Prabowo Subianto dan Teddy. Menteri Komdigi Meutya Hafid menilai narasi tersebut berpotensi provokatif dan dapat merendahkan martabat Presiden.


🗣️ Amien Rais: Kritik adalah hak konstitusional


Menanggapi polemik tersebut, Amien Rais menegaskan bahwa pernyataannya merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi.


Ia menyebut bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan elemen penting dalam demokrasi.


“Saya yakin demokrasi itu berjalan baik kalau kebebasan mengeluarkan pendapat yang dijamin oleh UUD tidak dibatasi,” ujar Amien.


📱 Sorotan dari media digital


Amien menjelaskan bahwa pandangannya muncul setelah mengamati berbagai konten di media sosial dan kanal digital. Ia menyebut terdapat hal yang menurutnya “tidak biasa” terkait peran Sekretaris Kabinet Teddy dalam lingkaran kekuasaan.


Menurutnya, hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai proporsionalitas peran dalam pemerintahan.


⚖️ Komdigi: Konten berpotensi memecah belah


Di sisi lain, Meutya Hafid dari Komdigi menegaskan bahwa konten tersebut dapat berdampak negatif terhadap stabilitas informasi publik.


Ia menilai narasi yang berkembang di ruang digital berpotensi menimbulkan salah persepsi dan perpecahan di masyarakat jika tidak disikapi secara hati-hati.


🏛️ Polemik soal akses dan birokrasi


Amien juga menyinggung soal dinamika birokrasi di lingkungan pemerintahan, termasuk peran Sekretaris Kabinet dalam mengatur akses ke Presiden.


Ia menyebut adanya keluhan dari pejabat yang merasa sulit bertemu Presiden karena faktor administratif internal.


🧾 Kesimpulan


Bataranews menyoroti bahwa polemik antara Amien Rais dan Komdigi mencerminkan dinamika antara kebebasan berpendapat dan upaya menjaga stabilitas informasi publik. Di tengah perbedaan pandangan tersebut, kedua pihak tetap berada dalam sorotan terkait batas antara kritik politik dan potensi disinformasi di ruang digital.