Bataranews– Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan langsung membacakan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Langkah ini dinilai tidak biasa dan memunculkan perhatian besar dari pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.
Ekonom Center of Reform on Economics Yusuf Rendy Manilet menilai, selama ini dokumen KEM-PPKF identik disampaikan Menteri Keuangan sebagai bagian dari proses teknokratis penyusunan APBN.
Presiden Dinilai Ambil Peran Sentral
Menurut Yusuf, keputusan Presiden membacakan langsung dokumen tersebut memberi sinyal bahwa kebijakan fiskal kini menjadi bagian utama dari agenda politik pemerintahan.
Ia menyebut, secara konstitusional Presiden memang memiliki kewenangan penuh menentukan arah kebijakan fiskal. Namun, pasar mulai menaruh perhatian pada bagaimana proses pengambilan keputusan itu dilakukan.
“Pasar mulai bertanya apakah proses penyusunan kebijakannya tetap berbasis kajian matang atau terlalu cepat mengikuti momentum politik,” ujar Yusuf.
IHSG dan Rupiah Tertekan
Dalam beberapa hari terakhir, pasar keuangan domestik mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah cukup dalam, sementara nilai tukar rupiah juga mengalami penurunan.
Yusuf menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya faktor domestik yang meningkatkan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
Ia mengatakan pasar sebenarnya masih bisa menerima perubahan kebijakan selama arahnya jelas, komunikasinya konsisten, dan desain kebijakannya mudah dipahami.
Rumor Badan Ekspor Bikin Investor Khawatir
Kekhawatiran investor juga dipicu rumor pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis. Lembaga tersebut disebut akan mengatur ekspor batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam melalui kontrol negara.
Menurut Yusuf, rumor tersebut memunculkan kekhawatiran terkait potensi distorsi harga, meningkatnya kontrol pemerintah terhadap perdagangan komoditas, hingga risiko menurunnya margin perusahaan.
“Pasar bekerja berdasarkan ekspektasi dan persepsi risiko, bukan hanya kebijakan yang sudah final,” katanya.
Sentimen negatif itu ikut menekan IHSG yang pada perdagangan Selasa (19/5/2026) ditutup melemah 3,46 persen.
Pemerintah Minta Tunggu Penjelasan Resmi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Presiden turun langsung membacakan dokumen KEM-PPKF karena di dalamnya memuat berbagai program unggulan pemerintah.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta publik menunggu penjelasan resmi pemerintah mengenai arah kebijakan ekonomi ke depan.
Kesimpulan
Langkah Presiden Prabowo membacakan langsung KEM-PPKF RAPBN 2027 menjadi sorotan karena dianggap menandai semakin kuatnya peran Presiden dalam arah kebijakan fiskal nasional. Di tengah rumor pembentukan badan ekspor komoditas, pasar keuangan pun mulai menunjukkan reaksi negatif akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

.webp)