Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dikabarkan memberhentikan penasihat senior kepresidenannya, Oktay Saral, setelah kritik terhadap larangan penggunaan jilbab di Azerbaijan memicu ketegangan diplomatik antara Ankara dan Baku.
Langkah tersebut disebut berkaitan dengan upaya Turki meredakan perselisihan dengan Azerbaijan, negara yang selama ini menjadi sekutu dekatnya. Persoalan bermula ketika kebijakan pembatasan jilbab di sekolah-sekolah Azerbaijan menuai protes dan mendapat sorotan dari sejumlah pihak di Turki.
Mengutip laporan Middle East Eye (MEE), Senin (26/10/2026), pemecatan Saral diduga menjadi bagian dari upaya memperbaiki hubungan kedua negara yang sempat memanas.
Saral sendiri telah mengonfirmasi bahwa dirinya tidak lagi menjabat sebagai penasihat utama kepresidenan Turki. Ia menyatakan menghormati keputusan yang diambil Erdogan.
“Saya sepenuhnya menghormati keputusan presiden,” kata Saral dalam pesan kepada MEE.
Kritik Larangan Jilbab Picu Ketegangan Turki-Azerbaijan
Perselisihan ini bermula setelah Azerbaijan memberlakukan larangan penggunaan jilbab di sekolah dasar dan menengah pada bulan sebelumnya. Kebijakan tersebut memicu demonstrasi di Turki sekaligus kritik terhadap pemerintahan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev.
Oktay Saral turut menyampaikan keberatannya melalui media sosial. Ia mengkritik kebijakan tersebut dan meminta pemerintah Azerbaijan mencabut larangan penggunaan jilbab di lingkungan sekolah.
Pernyataan Saral kemudian memicu reaksi keras dari Partai Azerbaijan Baru, partai politik yang dipimpin Aliyev. Pada awal Oktober, partai tersebut mendesak Ankara agar tidak menunjukkan sikap yang dianggap mencerminkan keinginan mendominasi dunia Islam.
Situasi ini menjadi sensitif karena Turki dan Azerbaijan memiliki hubungan erat yang dibangun atas dasar kedekatan etnis, budaya, agama, dan sejarah. Ketegangan di antara keduanya berpotensi memengaruhi hubungan politik serta diplomatik yang selama ini terjalin.
Azerbaijan Disebut Meminta Saral Diberhentikan
Menurut laporan MEE, pemecatan Saral berkaitan dengan tuntutan Azerbaijan untuk mengakhiri krisis diplomatik. Sebelumnya, sumber yang dikutip media tersebut menyebut Baku meminta Ankara memberhentikan Saral.
Azerbaijan juga disebut meminta agar sejumlah komentator di media sosial yang dianggap menghina Presiden Ilham Aliyev diproses secara hukum.
Seorang sumber Azerbaijan mengatakan kepada MEE bahwa pemberhentian Saral dapat meningkatkan kemungkinan Aliyev menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Negara-Negara Turkik yang digelar di Turki.
Sumber tersebut menilai peluang kehadiran Aliyev sebelumnya berada di bawah 50 persen sebelum keputusan terkait Saral diambil.
Meski demikian, informasi mengenai tuntutan Azerbaijan tersebut berasal dari sumber yang dikutip MEE dan tidak disertai konfirmasi resmi terbuka dari kedua pemerintah dalam laporan tersebut.
Erdogan Undang Aliyev Hadiri KTT Negara-Negara Turkik
Di tengah ketegangan yang berkembang, Erdogan berupaya menjaga komunikasi langsung dengan Aliyev. Kedua pemimpin dilaporkan melakukan percakapan telepon pada Kamis pekan sebelumnya.
Dalam pernyataan resmi masing-masing, pemerintah Turki dan Azerbaijan mengonfirmasi bahwa Erdogan mengundang Aliyev untuk menghadiri KTT Organisasi Negara-Negara Turkik di Turki pada akhir pekan ini.
Namun, kedua pernyataan resmi tersebut tidak memastikan apakah Aliyev akan memenuhi undangan itu.
Sejumlah pejabat Turki dilaporkan khawatir bahwa kemarahan Aliyev terhadap demonstrasi di Turki yang menentang larangan jilbab dapat memengaruhi keputusannya untuk menghadiri pertemuan tersebut.
Kehadiran Aliyev dipandang penting bagi Ankara untuk menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tetap terjaga meskipun terjadi perselisihan.
Upaya Diplomatik Turki Belum Sepenuhnya Meredakan Krisis
Sebelum kabar pemecatan Saral muncul, Turki telah berupaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomatik. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bahkan melakukan kunjungan ke Baku.
Namun, menurut laporan MEE, kunjungan tersebut belum berhasil memperbaiki suasana hubungan kedua negara. Setelah kunjungan itu, media Azerbaijan justru dilaporkan menerbitkan pemberitaan bernada permusuhan terhadap Turki.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persoalan larangan jilbab telah meluas dari perdebatan mengenai kebijakan pendidikan dan kebebasan beragama menjadi isu diplomatik yang melibatkan pejabat tinggi kedua negara.
Pemecatan Saral kini menjadi salah satu langkah yang dikaitkan dengan upaya Ankara memulihkan hubungan dengan Baku. Meski demikian, perkembangan hubungan Turki dan Azerbaijan selanjutnya akan bergantung pada respons kedua pemerintah serta hasil komunikasi diplomatik mereka, termasuk terkait pelaksanaan KTT Organisasi Negara-Negara Turkik.(Rhz2797)


