-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ratusan Siswa dan Guru Diduga Keracunan MBG di Cirebon, 4 Rumah Sakit Turun Tangan

Oktober 21, 2026 Last Updated 2026-10-21T05:57:37Z

 Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026) malam. Ratusan siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan perawatan di empat rumah sakit.


Para korban mengeluhkan mual, pusing, muntah, hingga diare. Sebagian siswa bahkan harus dibawa menggunakan tandu karena kondisi tubuh mereka lemas dan membutuhkan pertolongan medis segera.


Rumah Sakit (RS) Putra Bahagia menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang dipadati pasien. Para siswa terus berdatangan ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan setelah mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari program MBG.


Pasien Membludak, Sembilan Ambulans Disiagakan


Banyaknya pasien yang datang membuat petugas medis melakukan rujukan ke sejumlah rumah sakit lain. Langkah tersebut ditempuh agar para korban dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis masing-masing.


Sebanyak sembilan ambulans disiagakan di RS Putra Bahagia untuk membantu proses pemindahan pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.


Kondisi para korban dilaporkan beragam. Sebagian siswa sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan, sedangkan korban lainnya masih dirawat karena belum sepenuhnya pulih.


Peristiwa ini turut menjadi perhatian karena tidak hanya siswa yang mengalami keluhan, tetapi juga sejumlah guru. Penanganan medis pun menjadi prioritas sembari menunggu kepastian penyebab kejadian.


Sup Telur Puyuh dari Menu MBG Jadi Sorotan


Dugaan keracunan tersebut dikaitkan dengan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga Lima. Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah sup telur puyuh, yang menurut keterangan seorang orang tua siswa memiliki rasa asam dan tidak enak.


Agus Bahtiar, salah satu orang tua siswa, mengatakan sejumlah siswa dan guru mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi menu tersebut.


"Banyak yang kena, guru juga ada, pasa saya tanya makan apa ternyata sama semua makan telur puyuhnya asam dari MBG," ujar Agus.


Meski demikian, keterkaitan antara makanan tersebut dan gejala yang dialami para korban masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium. Hasil pengujian diperlukan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang terjadi.


BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG Kalijaga Lima


Menanggapi kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah dengan menghentikan sementara operasional SPPG Kalijaga Lima di Kota Cirebon.


Kepala KPPG Kota Cirebon, Yulian Septa Pratama, menjelaskan bahwa sampel sup telur puyuh telah diamankan untuk menjalani pengujian di laboratorium. Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab dugaan keracunan.


"Menu yang disajkan tadi itu ada sup telur puyuh. Per malam ini, SPPG tersebut sudah kami suspend sampai batas waktu yang belum ditentukan," ujar Yulian.


Penghentian operasional dilakukan untuk sementara waktu tanpa batas akhir yang telah ditetapkan. Keputusan selanjutnya mengenai operasional SPPG tersebut akan bergantung pada perkembangan penanganan kasus dan hasil pemeriksaan terkait.


Biaya Pengobatan Korban Ditanggung BGN


BGN juga memastikan bahwa biaya penanganan medis para siswa dan guru yang terdampak akan ditanggung oleh lembaga tersebut.


"Seluruh biaya penanganan ini akan ditanggung oleh BGN," kata Yulian.


Jaminan pembiayaan ini diharapkan membantu para korban mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan tanpa terbebani biaya pengobatan akibat kejadian tersebut.


Di sisi lain, pemeriksaan sampel makanan menjadi tahapan penting untuk memastikan apakah sup telur puyuh atau faktor lain berkaitan dengan munculnya gejala pada para korban.


Kasus dugaan keracunan MBG di Cirebon ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program makan bergizi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan.


Hingga penyebab pastinya diketahui, dugaan keracunan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui hasil pemeriksaan. Prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang memadai sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.(Rhz2797)