-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Karhutla Mengancam Bromo hingga Ijen, BNPB Kerahkan Helikopter dan Pesawat Tambahan!

Oktober 23, 2026 Last Updated 2026-10-23T14:22:44Z


Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi pemadaman. Pemerintah pusat menambah dukungan armada udara untuk mempercepat penanganan kebakaran di kawasan Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, hingga Ijen.


Langkah ini dilakukan untuk mencegah api semakin meluas dan merusak kawasan hutan yang memiliki nilai ekologis penting. Operasi pemadaman melibatkan pemerintah daerah, personel TNI, serta berbagai unsur terkait yang selama ini bekerja menangani kebakaran di lapangan.


Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, tambahan armada udara disiapkan untuk meningkatkan efektivitas pemadaman, terutama di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.


BNPB berencana mengirimkan satu helikopter water bombing dari Kalimantan Selatan menuju Malang. Selain itu, satu pesawat untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga akan dikerahkan dari Kalimantan Barat guna membantu penanganan karhutla di Jawa Timur.


Kristomei berharap tambahan dukungan tersebut dapat mempercepat proses pemadaman sehingga api tidak terus membara ataupun merambat ke wilayah lain.


BNPB Tambah Helikopter Water Bombing dan Pesawat OMC


Penambahan armada udara menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat penanganan karhutla di berbagai kawasan pegunungan Jawa Timur. Helikopter water bombing digunakan untuk menjatuhkan air ke titik kebakaran, terutama di area yang sulit dijangkau petugas pemadam dari darat.


Sementara itu, pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca disiapkan sebagai dukungan dalam upaya penanganan bencana. Pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan teknis, sehingga efektivitasnya perlu disesuaikan dengan situasi meteorologis.


Dukungan dari pemerintah pusat ini melengkapi langkah yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, termasuk pengerahan personel darat dan pelaksanaan pemadaman melalui udara.


Kombinasi berbagai metode tersebut diharapkan dapat meningkatkan jangkauan operasi, mempercepat penanganan titik api, serta menekan potensi perluasan kebakaran di kawasan hutan dan pegunungan.


Pesawat Water Bombing Sudah Terbang 462 Kali


Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebelumnya telah mengerahkan pesawat water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran di sejumlah lokasi. Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan, pesawat tersebut telah melakukan 462 kali penerbangan untuk mendukung operasi pemadaman.


Selain armada pesawat, petugas juga memanfaatkan teknologi drone water spray dengan kapasitas angkut air 100 liter. Perangkat ini digunakan untuk menjangkau lokasi kebakaran yang memiliki medan terjal, tebing curam, atau akses terbatas bagi tim pemadam di darat.


Penggunaan teknologi udara menjadi salah satu strategi penting dalam penanganan karhutla di kawasan pegunungan. Kondisi medan yang sulit dapat memperlambat pergerakan personel, sementara api yang tidak segera ditangani berisiko menyebar ke vegetasi di sekitarnya.


Karena itu, dukungan armada udara perlu berjalan beriringan dengan pemadaman dari darat agar titik api dapat ditangani secara lebih efektif.


Karhutla Melanda 26 Kabupaten/Kota di Jawa Timur


Skala kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur menjadi tantangan besar bagi petugas gabungan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur yang tercantum dalam laporan, selama masa siaga darurat tercatat 184 kejadian karhutla di 26 kabupaten/kota.


Total luas lahan yang terbakar mencapai 11.449 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 77,05 persen berada di kawasan hutan konservasi.


Besarnya area terdampak membuat upaya penanganan tidak hanya berorientasi pada pemadaman api. Pemerintah juga perlu memastikan perlindungan ekosistem, habitat satwa liar, serta kawasan hutan yang berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan.


Kebakaran di kawasan konservasi berpotensi menimbulkan dampak ekologis jangka panjang apabila tidak segera dikendalikan. Oleh sebab itu, percepatan pemadaman dan pencegahan kebakaran susulan menjadi bagian penting dari strategi penanganan.


Titik Api di Sejumlah Gunung Jadi Perhatian


Kemunculan titik api secara bersamaan di beberapa kawasan pegunungan turut menjadi perhatian pemerintah. Selain kondisi cuaca yang dapat meningkatkan risiko kebakaran, aktivitas manusia juga perlu diwaspadai sebagai salah satu faktor pemicu karhutla.


Aktivitas seperti pembakaran yang tidak terkendali maupun kelalaian saat berada di kawasan hutan berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika vegetasi dalam kondisi kering. Meski demikian, penyebab setiap kejadian perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penyelidikan di lapangan.


Untuk mengurangi risiko kebakaran berulang, pemerintah akan memperkuat pengawasan di kawasan rawan. Aparat penegak hukum bersama satuan tugas gabungan yang melibatkan TNI, Polri, dan pemerintah daerah juga didorong meningkatkan penindakan terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran.


Penegakan hukum diharapkan memberikan efek jera sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di kawasan hutan dan gunung.


Pemadaman Diperkuat untuk Mencegah Kebakaran Meluas


Penambahan helikopter water bombing, dukungan pesawat OMC, serta penguatan operasi darat menjadi bagian dari langkah terpadu pemerintah dalam menghadapi karhutla di Jawa Timur.


Keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada jumlah armada yang dikerahkan, tetapi juga koordinasi antarpihak, kondisi cuaca, akses menuju titik api, dan kecepatan petugas merespons kemunculan kebakaran baru.


Pemerintah berharap berbagai upaya tersebut dapat segera mengendalikan kebakaran di kawasan Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, hingga Ijen. Perlindungan terhadap kawasan konservasi dan pencegahan munculnya titik api baru juga menjadi perhatian agar dampak kebakaran tidak semakin meluas.


Masyarakat yang beraktivitas di kawasan pegunungan diimbau turut menjaga lingkungan dengan menghindari pembakaran terbuka dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. Keterlibatan masyarakat diperlukan untuk mendukung upaya petugas dalam melindungi hutan dan mencegah karhutla berulang.(Rhz2797)