-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kisah Tragis Ponidjo alias Brindil, Korban Salah Sasaran Petrus di Masa Orde Baru

November 08, 2025 Last Updated 2025-11-08T11:27:10Z



Fenomena Penembakan Misterius (Petrus) pada era Orde Baru antara tahun 1982 hingga 1985 menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia. Meski diklaim berhasil menekan angka kejahatan, operasi ini juga meninggalkan jejak pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang mendalam.


Salah satu korban salah sasaran dari operasi ini adalah Ponidjo, yang lebih dikenal dengan panggilan Brindil.


Masuk Daftar Eksekusi Tanpa Alasan Jelas


Kisah Brindil bermula di Yogyakarta, salah satu daerah yang menjadi fokus Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK). Operasi ini dipimpin oleh Letkol CZI M. Hasbi, Komandan Kodim 0734 Yogyakarta, dan menyasar mereka yang dilabeli sebagai gali — singkatan dari gabungan anak liar, istilah untuk para preman yang meresahkan masyarakat.


Namun, Brindil bukanlah seorang gali. Ia dikenal warga sebagai pedagang sapi sederhana di desanya, Sidorejo, Kulonprogo. Nasib buruk menimpanya ketika namanya tiba-tiba masuk dalam daftar orang yang harus “dihabisi”.


“Nama saya masuk daftar,” ujar Brindil kepada BBC News Indonesia, seperti dikutip Kompas.com.


“Padahal saya cuma bakul sapi, bukan rampok atau preman,” tambahnya.


Dituduh Gali Karena Politik Desa


Semua bermula dari pemilihan lurah Sidorejo pada tahun 1982, di mana keponakan Brindil ikut maju sebagai calon. Karena disegani masyarakat, Brindil diminta membantu kampanye sang keponakan.


Keberhasilannya membuat sang keponakan terpilih menjadi lurah ternyata menjadi awal malapetaka. Tak lama kemudian, surat dari kelurahan datang: nama Brindil tercantum dalam daftar gali yang akan diburu.


Keponakannya menangis karena tak tahu bagaimana menyelamatkan sang paman. Brindil tetap tenang, meski rasa takut mulai menghantuinya.


Lapor Setiap Hari ke Kodim


Alih-alih melarikan diri, Brindil memutuskan datang ke Kodim 0731 Kulonprogo di Wates untuk menjelaskan bahwa dirinya bukan preman. Ia menegaskan tidak pernah memalak, mencuri, atau memeras siapa pun.


Langkah itu menyelamatkannya. Aparat Kodim hanya mewajibkan Brindil lapor setiap hari selama seminggu.


“Setiap hari saya jalan kaki 17 kilometer ke Kodim untuk tanda tangan,” kenangnya.


Setelah seminggu, Brindil diberikan sepucuk surat untuk diserahkan ke Koramil di wilayahnya. Dari situ ia baru tahu bahwa dirinya resmi dihapus dari daftar target Petrus.


Meski selamat, pengalaman itu menjadi trauma seumur hidup baginya.


Latar Belakang Operasi Petrus di Yogyakarta


Pada awal 1980-an, Yogyakarta diguncang oleh gelombang kejahatan yang dilakukan kelompok gali. Mereka dikenal brutal, menguasai wilayah, dan bahkan membuat polisi tak berdaya.


Untuk mengatasi kekacauan ini, aparat militer melancarkan Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK), yang kemudian dikenal masyarakat sebagai aksi Petrus atau penembak misterius.


Para korban biasanya ditemukan dengan luka tembak di kepala atau leher, dan mayat mereka sengaja dibiarkan di tempat umum — sebagai shock therapy bagi para penjahat.


Masyarakat pun hidup dalam ketakutan, tak tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya.


Petrus, Perintah Langsung dari Soeharto


Secara nasional, operasi ini merupakan bagian dari kebijakan keras Presiden Soeharto untuk menekan angka kriminalitas. Dalam buku Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan, Soeharto bahkan pernah mengakui bahwa tindakan tegas ini adalah bentuk “terapi kejut” bagi masyarakat.


“Yang melawan, mau tidak mau harus ditembak. Itu untuk shock therapy, supaya orang tahu bahwa kejahatan masih bisa ditindak,” ujar Soeharto kala itu.


Operasi ini disebut menewaskan lebih dari 700 orang hanya dalam rentang tiga tahun. Sebagian besar korban ditemukan dengan kondisi tangan dan leher terikat, sebagian lainnya hilang tanpa jejak.


Korban Salah Sasaran dan Bayang-Bayang Ketakutan


Kasus Ponidjo alias Brindil menjadi bukti bahwa operasi Petrus tidak sepenuhnya tepat sasaran. Banyak warga biasa yang ikut menjadi korban hanya karena salah informasi atau fitnah politik lokal.


Meski pemerintah Orde Baru mengklaim operasi tersebut efektif menekan kejahatan, namun di sisi lain, banyak keluarga kehilangan anggota tanpa penjelasan resmi.


Kini, kisah Brindil menjadi pengingat akan pentingnya keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum. Ia selamat, tapi banyak korban lain yang tidak seberuntung dirinya.

×