-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Asal Usul Salat dalam Islam dan Makna Gerakan Iftitah, Rukuk hingga Tahiyat

Mei 09, 2026 Last Updated 2026-05-09T08:18:38Z


Bataranews– Salat menjadi ibadah wajib paling utama dalam Islam yang dikerjakan umat Muslim sebanyak lima waktu setiap hari.


Di balik setiap gerakannya, salat memiliki sejarah panjang dan makna spiritual mendalam, mulai dari takbiratul ihram, rukuk, sujud, hingga tahiyat akhir sebelum salam.


Salat Berasal dari Peristiwa Isra Mi’raj


Salat dalam Islam berasal dari perintah langsung Allah kepada Nabi Muhammad saat peristiwa Isra and Mi'raj.


Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad menerima kewajiban salat untuk umat Islam.


Awalnya, salat diwajibkan sebanyak 50 kali sehari. Namun setelah Nabi Muhammad memohon keringanan atas saran Nabi Musa, jumlahnya dikurangi menjadi lima waktu sehari semalam.


Meski begitu, pahala salat lima waktu tetap setara dengan 50 salat.


Makna Takbiratul Ihram dan Rukuk


Salat dimulai dengan takbiratul ihram, yaitu mengangkat tangan sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.


Gerakan ini menjadi tanda seseorang meninggalkan urusan dunia dan mulai fokus beribadah kepada Allah.


Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan doa iftitah sebagai bentuk pujian kepada Allah sebelum membaca Al-Fatihah.


Sementara rukuk dilakukan dengan posisi membungkuk dan tangan bertumpu di lutut.


Rukuk memiliki makna:


penghormatan kepada Allah,

kerendahan hati,

pengakuan bahwa manusia lemah di hadapan Sang Pencipta.


Saat rukuk, umat Muslim membaca:


“Subhana rabbiyal ‘azhim”


Yang berarti:


“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.”


Sujud dan Tahiyat Jadi Simbol Kedekatan kepada Allah


Sujud menjadi gerakan paling rendah dalam salat karena dahi menyentuh tanah.


Dalam Islam, posisi ini dianggap sebagai saat paling dekat antara manusia dengan Allah.


Makna sujud melambangkan:


ketundukan total,

penghambaan penuh,

pengingat bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.


Setelah sujud, terdapat duduk tahiyat atau tasyahud.


Tahiyat dilakukan sambil membaca syahadat dan doa sebagai bentuk:


pembaruan iman,

kesaksian kepada Allah dan Rasul-Nya,

doa keselamatan sebelum mengakhiri salat.


Pada tahiyat akhir, umat Muslim juga membaca salawat kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk penghormatan dan doa.


Gerakan Salat Tetap Sama Sejak Zaman Nabi


Gerakan salat yang dilakukan umat Islam saat ini tetap sama sejak zaman Nabi Muhammad.


Hal tersebut karena umat Islam mengikuti tuntunan Nabi:


“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”


Ajaran itu diwariskan turun-temurun oleh para sahabat, ulama, dan kitab-kitab fikih selama lebih dari 1.400 tahun.


Karena itu, bentuk dasar salat umat Islam di berbagai negara tetap serupa meski terdapat sedikit perbedaan dalam beberapa mazhab.


Kesimpulan


Salat bukan hanya ibadah wajib dalam Islam, tetapi juga memiliki sejarah dan makna spiritual yang mendalam. Setiap gerakan, mulai dari takbiratul ihram, rukuk, sujud, hingga tahiyat, mengandung simbol ketundukan dan kedekatan manusia kepada Allah. Tradisi salat yang diwariskan sejak zaman Nabi Muhammad membuat tata cara ibadah ini tetap terjaga hingga sekarang.