-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iran Dikabarkan Incar 400 Rudal Pertahanan Udara China, Benarkah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Juli 30, 2026 Last Updated 2026-07-30T13:07:53Z



Bataranews– Iran dikabarkan tengah berupaya memperkuat sistem pertahanan udaranya dengan mencari pasokan rudal pertahanan udara portabel atau Man-Portable Air Defense System (MANPADS) dari China. Laporan tersebut menyebut Teheran berpotensi memperoleh hingga 400 unit rudal portabel sebagai bagian dari penguatan pertahanan jarak pendek.


Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun China terkait kabar tersebut. Kementerian Luar Negeri China bahkan menegaskan bahwa informasi mengenai pengiriman rudal ke Iran "sama sekali tidak berdasar" dan menyatakan Beijing tetap mendukung penyelesaian konflik melalui jalur damai.


Iran Disebut Mengincar QW-12 dan FN-16


Sejumlah laporan media internasional menyebut Iran berpotensi menerima sistem MANPADS buatan China berupa varian QW-12 dan FN-16. Nilai kontrak yang disebut-sebut mencapai sekitar 60 hingga 70 juta dolar AS.


Jika terealisasi, pengadaan tersebut akan menjadi salah satu langkah penting Iran dalam memperkuat lapisan pertahanan udara jarak dekat setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel menyoroti sejumlah kelemahan dalam perlindungan fasilitas strategis.


Namun hingga saat ini, informasi mengenai jumlah, jadwal pengiriman, maupun kesepakatan resmi masih belum dapat diverifikasi secara independen.


Mengenal QW-12 dan FN-16


QW-12 merupakan rudal pertahanan udara portabel yang dirancang untuk menghadapi ancaman udara jarak dekat seperti pesawat tempur, helikopter, dan drone. Sistem ini menggunakan pemandu inframerah (infrared homing) untuk mengunci panas mesin target.


Sementara itu, FN-16 merupakan pengembangan dari keluarga rudal portabel China yang memiliki kemampuan all-aspect engagement, sehingga dapat menyerang sasaran dari berbagai arah, termasuk bagian depan pesawat.


Kedua sistem tersebut umumnya digunakan sebagai lapisan pertahanan pertama guna melindungi pangkalan militer, fasilitas energi, infrastruktur penting, maupun pasukan darat dari ancaman udara berjarak dekat.


Meski demikian, MANPADS memiliki keterbatasan karena tidak dirancang untuk menghadapi rudal balistik jarak jauh ataupun pesawat siluman. Sistem ini lebih berfungsi sebagai pelengkap pertahanan udara berlapis bersama sistem jarak menengah dan jauh.


Penguatan Pertahanan Pasca Konflik


Meningkatnya kebutuhan Iran terhadap sistem pertahanan tambahan disebut berkaitan dengan pengalaman dalam konflik terbaru yang menunjukkan kemampuan lawan menembus sebagian jaringan pertahanan udara yang dimiliki negara tersebut.


Iran saat ini telah mengoperasikan sejumlah sistem pertahanan, baik produksi dalam negeri maupun impor, termasuk Bavar-373 serta S-300PMU-2 buatan Rusia. Namun perkembangan ancaman modern seperti drone, rudal jelajah, dan serangan presisi mendorong banyak negara membangun sistem pertahanan berlapis.


Dalam konsep tersebut, MANPADS berfungsi sebagai perlindungan terakhir terhadap ancaman udara yang berhasil mendekati sasaran strategis.


Dugaan Jalur Pengiriman Masih Sebatas Laporan


Beberapa laporan juga menyebut pengiriman potensial tersebut dapat melalui negara ketiga, termasuk rute dari Xinjiang menuju Pakistan sebelum diteruskan ke Iran. Namun hingga kini belum ada bukti independen yang dapat mengonfirmasi mekanisme maupun jalur logistik tersebut.


Pemerintah China tetap membantah adanya rencana pengiriman persenjataan ke Iran, sehingga seluruh informasi mengenai kesepakatan tersebut masih perlu dipandang sebagai laporan yang belum terverifikasi secara resmi.


Kesimpulan


Kabar mengenai rencana Iran memperoleh hingga 400 MANPADS buatan China menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi dinamika keamanan di Timur Tengah. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait, sementara China secara terbuka membantah laporan tersebut. Dengan demikian, informasi mengenai pengadaan maupun pengiriman sistem pertahanan itu masih menunggu perkembangan dan verifikasi lebih lanjut.