-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Makan Telur 5 Kali Seminggu Disebut Berkaitan dengan Risiko Alzheimer Lebih Rendah

Agustus 09, 2026 Last Updated 2026-08-09T14:59:33Z


Telur bukan hanya dikenal sebagai sumber protein yang mudah diolah. Makanan ini juga mengandung berbagai vitamin, mineral, lemak, dan nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh.


Menariknya, sebuah penelitian yang terbit pada 2026 menemukan adanya kaitan antara kebiasaan mengonsumsi telur dan risiko penyakit Alzheimer pada kelompok orang dewasa lanjut usia.


Dalam penelitian tersebut, konsumsi telur secara rutin, terutama sedikitnya lima butir dalam seminggu, dikaitkan dengan risiko diagnosis Alzheimer yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi telur.


Namun, temuan ini perlu dipahami secara tepat. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara pola konsumsi telur dan risiko Alzheimer, bukan berarti makan telur secara langsung terbukti dapat mencegah penyakit tersebut.


Penelitian Melibatkan Puluhan Ribu Peserta


Studi berjudul Egg Intake and the Incidence of Alzheimer's Disease in the Adventist Health Study-2 Cohort Linked with Medicare Data tersebut diterbitkan dalam The Journal of Nutrition pada April 2026.


Penelitian melibatkan sekitar 40.000 peserta dari kelompok Adventist Health Study-2. Para peserta dipantau dalam jangka waktu rata-rata 15,3 tahun.


Saat penelitian dimulai, para peserta tidak memiliki riwayat penyakit Alzheimer maupun gangguan memori serius. Selama masa pemantauan, data kesehatan kemudian digunakan untuk melihat siapa saja yang akhirnya mendapatkan diagnosis Alzheimer.


Para peneliti selanjutnya membandingkan kejadian tersebut dengan pola konsumsi telur yang dilaporkan oleh peserta.


Makan Minimal 5 Telur Seminggu Dikaitkan dengan Risiko Lebih Rendah


Hasil analisis menunjukkan peserta yang mengonsumsi sedikitnya satu butir telur per hari selama lima hari atau lebih dalam sepekan memiliki risiko diagnosis Alzheimer sekitar 27 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak pernah makan telur.


Artinya, dalam penelitian tersebut, konsumsi minimal lima butir telur per minggu menjadi salah satu pola yang dikaitkan dengan tingkat risiko lebih rendah.


Menariknya, manfaat yang terlihat dalam data penelitian tidak hanya muncul pada kelompok yang mengonsumsi telur hampir setiap hari.


Peserta yang mengonsumsi telur satu hingga tiga kali dalam sebulan tercatat memiliki risiko sekitar 17 persen lebih rendah. Sementara mereka yang makan telur dua hingga empat kali dalam seminggu memiliki risiko sekitar 20 persen lebih rendah.


Temuan tersebut menunjukkan adanya pola hubungan antara frekuensi konsumsi telur dan risiko Alzheimer dalam kelompok yang diteliti.


Bukan Hanya Telur Utuh yang Dihitung


Dalam penelitian tersebut, para peneliti turut memperhitungkan berbagai sumber konsumsi telur.


Asupan yang dianalisis mencakup telur yang dikonsumsi secara langsung, misalnya telur rebus, goreng, atau orak-arik. Telur yang menjadi bagian dari makanan lain, seperti produk panggang dan makanan olahan, juga masuk dalam penghitungan.


Frekuensi konsumsi peserta kemudian dikelompokkan mulai dari tidak pernah makan telur hingga lima kali atau lebih dalam seminggu.


Para peneliti juga mempertimbangkan karakteristik khusus peserta penelitian. Mereka berasal dari kelompok Advent Hari Ketujuh yang secara umum memiliki pola makan relatif kaya akan makanan nabati seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.


Meski demikian, telur serta produk olahan susu tetap dikonsumsi oleh sebagian peserta.


Mengapa Telur Dikaitkan dengan Kesehatan Otak?


Salah satu alasan telur menarik perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan kognitif adalah kandungan nutrisinya.


Peneliti utama Joan Sabaté dari Loma Linda University School of Public Health menjelaskan bahwa telur mengandung sejumlah nutrisi yang memiliki peran penting bagi fungsi otak.


Salah satunya adalah kolin, nutrisi yang digunakan tubuh dalam berbagai proses penting, termasuk pembentukan senyawa yang berkaitan dengan fungsi memori dan komunikasi antarsel otak.


Telur juga mengandung lutein dan zeaxanthin, dua jenis karotenoid yang banyak dikaitkan dengan kesehatan mata dan fungsi kognitif.


Selain itu, kuning telur mengandung berbagai jenis lemak, termasuk omega-3, serta fosfolipid yang berperan dalam struktur dan fungsi sel.


Kombinasi nutrisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi telur terus diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan otak dan proses penuaan.


Tetap Perlu Pola Hidup Sehat Secara Keseluruhan


Meski hasil penelitian menunjukkan hubungan yang menarik, bukan berarti seseorang cukup mengandalkan telur untuk menurunkan risiko Alzheimer.


Penyakit Alzheimer merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, faktor genetik, kesehatan jantung dan pembuluh darah, aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, serta faktor gaya hidup lainnya.


Karena itu, konsumsi telur sebaiknya tetap menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.


Temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa makanan yang mengandung nutrisi tertentu berpotensi berkaitan dengan kesehatan kognitif. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme dan memastikan seberapa besar pengaruh konsumsi telur terhadap risiko Alzheimer.


Dengan kata lain, hasil penelitian tersebut menjadi kabar menarik mengenai hubungan antara konsumsi telur dan kesehatan otak, tetapi belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa makan lima telur setiap minggu secara langsung dapat mencegah Alzheimer.(Rhz2797)