-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bukan Cuma Santri, 27 Siswa di Sidoarjo Ikut Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Santap MBG

September 02, 2026 Last Updated 2026-09-02T04:51:34Z


Dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di wilayah Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Selain ratusan santri di Ponpes Manbaul Hikam, kejadian serupa juga dilaporkan dialami siswa SMP dan SMA Tri Bakti.


Data sementara mencatat terdapat 27 siswa dan santri yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG yang disuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 14 orang merupakan santri Pondok Pesantren Roisus Shobur, Desa Ngaban, Tanggulangin. Kemudian tujuh siswa berasal dari SMA Tri Bakti dan enam lainnya merupakan siswa SMP Tri Bakti.


Seluruh korban sempat dibawa ke RSUD Sidoarjo untuk menjalani pemeriksaan. Namun, tidak ada satu pun yang harus menjalani rawat inap. Setelah mendapatkan penanganan medis, seluruhnya diperbolehkan pulang.


Tujuh Siswa SMA Tri Bakti Mengalami Keluhan


Kepala SMA Tri Bakti, Tutik Masriah, membenarkan adanya tujuh siswa dari kelas X hingga XII yang mengalami keluhan setelah menyantap makanan MBG.


Menurut Tutik, makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 08.00 WIB. Para siswa kemudian menyantap makanan tersebut ketika memasuki jam istirahat, sekitar pukul 09.30 WIB.


"Selama ini sebenarnya tidak pernah ada masalah. Menu dari SPPG juga selama ini bagus," ujar Tutik kepada detikJatim di sekolahnya, Rabu (2/9/2026).


Keluhan yang dirasakan sejumlah siswa antara lain mual dan diare. Mereka kemudian dibawa ke RSUD Sidoarjo untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.


Tutik mengungkapkan dirinya juga ikut mengonsumsi makanan tersebut sebelum diberikan kepada para siswa. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengecekan makanan. Namun, saat itu dirinya tidak langsung mengalami keluhan.


Enam Siswa SMP Tri Bakti Turut Terdampak


Kepala SMP Tri Bakti, Indah Wahyuni, mengatakan sekolahnya menerima makanan MBG untuk seluruh 42 siswa. Dari jumlah tersebut, enam siswa kelas VII mengalami keluhan kesehatan.


"Jumlah siswa kami 42, semuanya mendapatkan MBG. Tapi yang terdampak enam anak, kelas VII," kata Indah.


Makanan tersebut tiba sekitar pukul 08.10 WIB dan baru dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.40 WIB saat jam istirahat. Artinya, terdapat jeda sekitar satu setengah jam sejak makanan tiba hingga disantap.


Setelah makan, sejumlah siswa mengalami keluhan seperti mual, muntah, diare, dan pusing. Gejala tersebut mulai dirasakan beberapa jam setelah mereka mengonsumsi makanan.


Enam siswa kemudian dibawa ke RSUD Sidoarjo. Setelah menjalani pemeriksaan, seluruhnya diperbolehkan pulang. Siswa terakhir dilaporkan meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 03.30 WIB.


Sekolah Minta Pengiriman MBG Ditunda


Menyusul kejadian tersebut, pihak SMP Tri Bakti meminta pengiriman makanan MBG ke sekolah ditunda sementara. Langkah tersebut diambil sambil menunggu kejelasan mengenai penyebab munculnya keluhan kesehatan pada sejumlah siswa.


"Kami sementara meminta ditunda dulu. Anak-anak dan orang tua juga masih trauma dengan kejadian ini," ungkap Indah.


Menurut pihak sekolah, penghentian sementara tersebut diharapkan dapat memberikan waktu untuk memastikan keamanan makanan sebelum program kembali diberikan kepada para siswa.


Santri di Ponpes Lain Juga Mengalami Keluhan


Selain siswa SMP dan SMA Tri Bakti, dugaan kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Pondok Pesantren Roisus Shobur, wilayah Kalitengah.


Sebanyak 14 santri dilaporkan mengalami sejumlah keluhan kesehatan. Gejala yang disebutkan antara lain nyeri perut, mual, muntah, diare, lemas hingga sesak napas.


Makanan yang dikonsumsi para santri tersebut diduga berasal dari SPPG Kalitengah. Berdasarkan informasi sementara, makanan yang dikirim pada pagi hari terdiri dari sejumlah menu, termasuk sayur, kuah, dan roti. Sebagian makanan disebut baru dikonsumsi pada siang hari.


Penyebab Masih Perlu Pemeriksaan


Meski terdapat sejumlah orang yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan.


Untuk mengetahui penyebabnya, diperlukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Selain itu, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan juga perlu diperiksa secara menyeluruh.


Jarak waktu antara makanan diterima dan dikonsumsi juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan. Kondisi penyimpanan yang tidak sesuai dalam waktu tertentu dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme pada makanan.


Karena itu, hasil pemeriksaan dan uji laboratorium diperlukan sebelum dapat menyimpulkan apakah keluhan kesehatan para siswa dan santri tersebut benar-benar berkaitan dengan makanan MBG.(Rhz2797)