Perayaan Idulfitri di Indonesia identik dengan hidangan seperti ketupat, opor ayam, dan tradisi sungkeman bersama keluarga. Namun di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Banyuwangi, suasana Lebaran memiliki warna budaya yang berbeda.
Masyarakat Suku Osing yang mendiami wilayah yang dikenal sebagai Bumi Blambangan masih melestarikan sejumlah tradisi turun-temurun setelah Lebaran. Ritual adat ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Berikut beberapa tradisi Lebaran khas Banyuwangi yang masih rutin digelar setiap tahun.
Barong Ider Bumi
Salah satu tradisi paling terkenal adalah Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Ritual ini biasanya berlangsung setiap tanggal 2 Syawal.
Prosesi dimulai dengan warga yang melempar uang koin, beras kuning, dan bunga ke jalan. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol membuang kesialan sekaligus menolak bala.
Setelah itu, tiga Barong Osing diarak mengelilingi desa sejauh sekitar dua kilometer. Arak-arakan tersebut diikuti para sesepuh desa yang membawa dupa sambil melantunkan doa keselamatan bagi masyarakat.
Puncak acara ditutup dengan kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan desa. Hidangan khas yang selalu hadir adalah Pecel Pitik, yakni ayam kampung berbumbu kelapa yang dimasak secara tradisional.
Ketupat Sewu
Tradisi lain yang tidak kalah meriah adalah Ketupat Sewu yang digelar di Desa Boyolangu. Acara ini biasanya dilaksanakan pada malam tanggal 7 Syawal setelah salat Isya.
Sesuai namanya, tradisi ini menghadirkan ribuan ketupat yang disiapkan oleh warga desa. Ketupat tersebut kemudian disantap bersama dalam acara makan bersama di sepanjang jalan desa.
Warga duduk di atas tikar sambil berdoa sebelum menikmati hidangan. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Puter Kayun
Pada tanggal 10 Syawal, masyarakat Banyuwangi juga menggelar tradisi Puter Kayun. Ritual ini merupakan napak tilas untuk mengenang perjuangan tokoh leluhur bernama Buyut Jaksa.
Dalam tradisi ini, warga melakukan konvoi menggunakan dokar atau kereta kuda yang telah dihias. Rombongan kemudian menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer menuju Pantai Watudodol.
Setelah tiba di pantai, acara dilanjutkan dengan piknik massal dan makan bersama yang menjadi momen kebersamaan bagi masyarakat.
Seblang Olehsari
Tradisi sakral lainnya adalah Seblang Olehsari yang digelar di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah. Waktu pelaksanaannya tidak memiliki tanggal pasti karena harus menunggu petunjuk dari para sesepuh desa.
Ritual ini terkenal unik karena penarinya harus seorang gadis yang berasal dari garis keturunan tertentu. Saat menari, penari Seblang dipercaya berada dalam kondisi trance karena dirasuki roh leluhur.
Tarian sakral ini biasanya berlangsung selama tujuh hari berturut-turut dan bertujuan memohon keselamatan serta perlindungan bagi desa dari berbagai musibah.
Jadi Daya Tarik Wisata Budaya
Beragam tradisi Lebaran di Banyuwangi tidak hanya menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Osing, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya.
Setiap tahun, ribuan pengunjung datang untuk menyaksikan langsung ritual tersebut. Selain menikmati prosesi adat, wisatawan juga dapat mencicipi kuliner khas serta merasakan suasana kebersamaan masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur hingga kini.

