Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi krisis energi. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat jalur distribusi minyak global melalui Selat Hormuz terancam terganggu.
Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur laut strategis tersebut. Sebagian besar minyak dari Timur Tengah juga dipasok ke berbagai negara di Asia.
Gangguan distribusi ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan awal Maret 2026, harga Brent Crude Oil sempat menembus US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai sekitar US$113,25 per barel.
Meski sempat turun hingga kisaran US$86 per barel, harga minyak kembali melonjak mendekati US$110 per barel beberapa hari kemudian akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Tanaman Lokal Bisa Jadi Solusi Energi Indonesia
Di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan energi melalui sumber energi berbasis tanaman.
Beberapa komoditas pertanian lokal yang berpotensi menjadi bahan bakar alternatif antara lain:
- Kelapa Sawit
- Tebu
- Jagung
- Sorgum
- Singkong
Tanaman-tanaman tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar nabati seperti biodiesel dan bioetanol yang dapat menggantikan sebagian konsumsi bahan bakar fosil.
Program Biodiesel Sawit Terus Ditingkatkan
Indonesia sendiri sudah lama memanfaatkan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel.
Saat ini pemerintah telah menjalankan program mandatori campuran biodiesel hingga B40, yaitu 40 persen biodiesel dicampur dengan solar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah tengah melakukan uji coba peningkatan campuran biodiesel menjadi B50.
Jika uji coba berjalan lancar, program tersebut ditargetkan selesai pada semester kedua tahun ini.
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki keuntungan besar karena memiliki produksi sawit yang melimpah sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Ia bahkan menyebut pemerintah membuka peluang untuk meningkatkan campuran biodiesel hingga B60 jika situasi energi global semakin tidak stabil.
Bioetanol dari Tanaman Pangan
Selain biodiesel dari sawit, sejumlah tanaman pangan juga bisa diolah menjadi bioetanol untuk menggantikan bahan bakar bensin.
Program ini dilakukan melalui pencampuran bioetanol ke dalam bensin, seperti E5 atau E20, yang berarti bensin dicampur dengan etanol sebesar 5 hingga 20 persen.
Bahan baku bioetanol dapat berasal dari tanaman seperti tebu, jagung, sorgum, hingga singkong.
Presiden Optimistis Indonesia Bisa Mandiri Energi
Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan optimisme bahwa Indonesia mampu memproduksi bahan bakar sendiri dari sumber daya alam yang dimiliki.
Menurutnya, kekayaan alam Indonesia memungkinkan kebutuhan bahan bakar dipenuhi dari dalam negeri tanpa harus bergantung pada impor.
Ia menegaskan bahwa tanaman seperti kelapa sawit dan singkong berpotensi besar menjadi sumber energi alternatif untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak
Di sisi lain, ketegangan global terus memicu volatilitas harga minyak. Ancaman dari Donald Trump untuk menyerang pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg semakin memperkeruh situasi.
Konflik tersebut juga berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi distribusi minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak mentah global melonjak lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini, mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.
Pasokan Energi Global Terancam
Menurut perkiraan International Energy Agency (IEA), gangguan pengiriman minyak dapat menyebabkan pasokan global turun hingga 8 juta barel per hari pada Maret 2026.
Sebagai langkah darurat, negara-negara anggota IEA sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka untuk meredam lonjakan harga.
Di tengah situasi ini, pengembangan energi berbasis tanaman dinilai menjadi langkah strategis bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada minyak impor.

