-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Serangan udara yang diduga dilakukan Pakistan menghantam pusat rehabilitasi di Kabul. Taliban menyebut ratusan orang tewas, sementara Pakistan membantah.

Maret 17, 2026 Last Updated 2026-03-17T01:01:34Z


Sebuah serangan udara mematikan mengguncang ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Senin malam (16/3/2026). Fasilitas pusat rehabilitasi pecandu narkoba dilaporkan menjadi sasaran serangan yang diduga dilakukan oleh militer Pakistan.


Pemerintah yang dipimpin Taliban menuduh serangan tersebut menargetkan fasilitas sipil dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Namun Islamabad membantah tuduhan itu dan mengeklaim hanya menyerang target militer.


Ledakan besar mengguncang Kabul


Ledakan keras terjadi sekitar pukul 21.00 waktu setempat dan membuat warga di Kabul panik. Saat itu banyak warga sedang beraktivitas setelah berbuka puasa Ramadan.


Suara tembakan dari sistem pertahanan udara terdengar beberapa saat sebelum situasi akhirnya mereda sekitar pukul 22.00.


Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menuduh Pakistan kembali melanggar kedaulatan wilayah Afghanistan. Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan tidak manusiawi yang menargetkan fasilitas sipil.


Tim jurnalis yang tiba di lokasi melihat bangunan pusat rehabilitasi dalam kondisi rusak parah dan terbakar. Ambulans serta petugas pemadam kebakaran terlihat bekerja mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan.


Korban disebut mencapai ratusan orang


Organisasi medis internasional yang beroperasi di Afghanistan melaporkan sejumlah korban telah dibawa ke rumah sakit.


Direktur organisasi kemanusiaan Emergency di Afghanistan, Dejan Panic, mengatakan pihaknya menerima beberapa jenazah serta merawat puluhan korban luka.


Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan Taliban, Sharafat Zaman, menyebut jumlah korban jauh lebih besar dari laporan awal.


Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, bahkan menyatakan sekitar 400 orang tewas dan sekitar 250 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.


Seorang penjaga keamanan di pusat rehabilitasi, Omid Stanikzai, mengaku mendengar suara jet tempur berpatroli sebelum bom dijatuhkan.


Menurutnya, seluruh korban yang berada di fasilitas tersebut adalah warga sipil yang sedang menjalani perawatan.


Pakistan bantah menargetkan warga sipil


Pemerintah Pakistan dengan tegas membantah bahwa mereka menyerang fasilitas sipil. Melalui Kementerian Informasi dan Penyiaran, Islamabad menyatakan operasi tersebut merupakan serangan presisi terhadap target militer.


Menurut pemerintah Pakistan, sasaran operasi adalah instalasi militer serta infrastruktur yang diduga digunakan kelompok militan di Kabul dan provinsi Nangarhar.


Mereka juga menyebut beberapa lokasi yang diserang merupakan tempat penyimpanan amunisi serta peralatan militan yang dianggap mengancam keamanan Pakistan.


Ketegangan Afghanistan–Pakistan makin memanas


Hubungan antara Afghanistan dan Pakistan memang terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Islamabad sebelumnya menuduh Taliban melindungi kelompok militan yang melakukan serangan di wilayah Pakistan.


Taliban membantah tuduhan tersebut dan menilai masalah militansi di Pakistan merupakan persoalan domestik negara tersebut.


Konflik bahkan disebut Pakistan telah berubah menjadi “perang terbuka” setelah beberapa bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan.


Upaya mediasi internasional juga telah dilakukan, termasuk oleh China. Namun para analis menilai peluang meredakan konflik masih kecil dalam waktu dekat.


Pakar Asia Selatan dari Atlantic Council, Michael Kugelman, menilai kedua pihak tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan menahan diri.


Krisis kemanusiaan kian memburuk


Bentrokan yang terus meningkat turut memperburuk situasi kemanusiaan di Afghanistan. Badan pengungsi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) mencatat sekitar 115.000 orang terpaksa mengungsi akibat konflik terbaru.


Selain itu, misi United Nations Assistance Mission in Afghanistan melaporkan puluhan warga sipil telah tewas sejak eskalasi konflik meningkat pada akhir Februari.


Sementara itu, World Food Programme (WFP) mulai menyalurkan bantuan pangan darurat kepada lebih dari 20.000 keluarga yang terdampak.


Lembaga tersebut memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut, jutaan warga Afghanistan berisiko mengalami krisis pangan yang lebih parah.

×