-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Thailand Sudah Unggul, Indonesia Balik Menggila! Drama 120 Menit Antar Garuda Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Oktober 06, 2026 Last Updated 2026-10-06T00:52:59Z

JAKARTA — Sudah unggul, disamakan. Sempat tertinggal, kembali bangkit. Bermain menghadapi lawan yang tinggal 10 pemain, tetapi justru harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia vs Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026), benar-benar menjadi pertandingan yang sulit dilupakan.


Timnas Indonesia akhirnya keluar sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti dengan skor 4-2. Sebelumnya, kedua tim bermain imbang 2-2 selama 120 menit pertandingan.


Kemenangan ini sekaligus membawa Indonesia menjadi juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup dan mengakhiri penantian panjang Garuda untuk mengalahkan Thailand. FIFA mencatat Indonesia sebelumnya tidak mampu mengalahkan Thailand dalam delapan pertemuan selama rentang 10 tahun.


Malam di SUGBK pun berubah menjadi pesta besar.


Namun, jalan Indonesia menuju trofi sama sekali tidak mudah.


Babak Pertama: Indonesia Mendominasi, Thailand Bertahan


Sejak pertandingan dimulai, Indonesia tampil lebih berani.


Garuda mencoba mengambil inisiatif melalui penguasaan bola dan serangan dari berbagai sisi. Thailand memilih pendekatan berbeda dengan bermain lebih dalam dan menunggu kesempatan melalui transisi cepat.


Beberapa peluang sempat tercipta, tetapi tidak ada yang benar-benar mampu membongkar pertahanan kedua tim.


FIFA mencatat peluang-peluang Indonesia antara lain datang melalui Mitch Baker dan Calvin Verdonk, tetapi belum menghasilkan gol. Hingga babak pertama berakhir, skor masih 0-0.


Situasi tersebut membuat pertandingan memasuki babak kedua dengan tensi yang semakin tinggi.


Dan drama sesungguhnya baru dimulai menjelang akhir waktu normal.


Thailand Kehilangan Pemain, Indonesia Langsung Menghukum


Memasuki menit-menit akhir pertandingan, Thailand mendapatkan pukulan besar.


Bek Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan. Thailand pun terpaksa bermain dengan 10 orang.


Dalam situasi tersebut, Indonesia langsung meningkatkan tekanan.


Hanya beberapa menit setelah Thailand kehilangan pemain, Garuda akhirnya menemukan celah.


Pada menit ke-84, Dean James mengambil tendangan bebas dari sisi kanan. Bola yang dilepaskan James mengenai pemain Thailand, Iklas Sanron, sehingga arah bola berubah dan mengecoh kiper Saranon Anuin.


GOOOL! Indonesia 1-0 Thailand.


SUGBK meledak.


Indonesia hanya membutuhkan beberapa menit untuk memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.


Tetapi Thailand ternyata belum menyerah.


Tiga menit berselang, tepatnya pada menit ke-87, Thailand membalas melalui Iklas Sanron. Memanfaatkan umpan silang Seksan Ratree, Iklas melakukan penyelesaian di tiang jauh dan mengubah skor menjadi 1-1.


Indonesia yang sebelumnya berada di atas angin kembali harus memulai semuanya dari nol.


Skor 1-1 bertahan sampai akhir waktu normal.


Pertandingan pun memasuki babak tambahan.


Thailand 10 Pemain, Tapi Justru Berbalik Unggul


Jika banyak yang memperkirakan Indonesia akan semakin dominan karena unggul jumlah pemain, kenyataan di lapangan justru berbeda.


Thailand membuat kejutan besar.


Pada menit ke-111, Peeradol Chamrasamee membawa Thailand berbalik unggul 2-1.


Gol tersebut lahir melalui serangan balik cepat. Anan Yodsangwal berhasil merebut bola dari Elkan Baggott sebelum memberikan kesempatan kepada Peeradol untuk menaklukkan Emil Audero.


SUGBK mendadak terdiam.


Indonesia hanya memiliki waktu kurang dari 10 menit untuk menyelamatkan final.


Dan ketika situasi terlihat semakin sulit, muncul sosok yang justru menjadi salah satu protagonis terbesar pertandingan.


Elkan Baggott Menolak Indonesia Kalah


Menit ke-116.


Indonesia menyerang.


Rizky Ridho mengirimkan bola ke area berbahaya. Bola kemudian sempat ditepis kiper Thailand.


Tetapi bola muntah jatuh di area yang tepat.


Elkan Baggott datang.


Bek kelahiran Bangkok tersebut langsung menyambar bola dan melepaskan tembakan yang bersarang ke gawang Thailand.


2-2!


Lima menit sebelum pertandingan berakhir, Indonesia kembali hidup.


Dan gol Baggott terasa semakin dramatis karena ia lahir di Bangkok, kota yang menjadi bagian dari sejarah hidup sang pemain.


FIFA mencatat Baggott mencetak gol penyama pada menit ke-116, yang sekaligus memaksa final ditentukan melalui adu penalti.


Tidak ada lagi gol hingga peluit panjang babak tambahan.


Setelah 120 menit penuh drama, Indonesia dan Thailand harus menentukan juara melalui adu penalti.


Adu Penalti Menjadi Panggung Emil Audero


Di titik inilah mental juara benar-benar diuji.


Indonesia memiliki empat eksekutor yang berhasil menjalankan tugasnya, yakni Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama.


Thailand tidak seberuntung Indonesia.


Kapten Thailand Sarach Yooyen gagal mengeksekusi penalti setelah tendangannya membentur tiang.


Kemudian, Nattapong Sayriya juga gagal setelah tendangannya berhasil ditepis kiper Indonesia Emil Audero.


Ketika penalti terakhir Thailand gagal, pesta pun dimulai.


Indonesia menang 4-2 dalam adu penalti.


Garuda resmi menjadi juara.


Bukan Sekadar Mengalahkan Thailand


Kemenangan Indonesia kali ini mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada sekadar tambahan satu trofi.


Ini adalah gelar FIFA ASEAN Cup pertama bagi Indonesia.


ANTARA mencatat gelar tersebut menjadi trofi internasional pertama Indonesia di luar raihan medali emas SEA Games.


Lebih menarik lagi, kemenangan tersebut datang ketika Indonesia menghadapi lawan yang secara historis sangat sulit ditaklukkan.


FIFA mencatat sebelum final ini, Indonesia sudah melewati delapan pertandingan dan sekitar 10 tahun tanpa kemenangan atas Thailand. Garuda akhirnya memutus catatan tersebut pada pertandingan paling penting: final turnamen.


Indonesia tidak menang dengan cara biasa.


Garuda harus menghadapi Thailand yang bermain dengan 10 pemain.


Indonesia sempat unggul.


Kemudian disamakan.


Indonesia sempat tertinggal.


Lalu menyamakan kedudukan lagi.


Dan setelah 120 menit belum menghasilkan pemenang, mental para pemain kembali diuji dari titik putih.


Indonesia akhirnya bertahan.


Indonesia akhirnya menang.


Dan Indonesia akhirnya mengangkat trofi.


Malam Ketika Mental Garuda Diuji


Ada satu hal yang membuat kemenangan ini terasa berbeda.


Indonesia tidak menang ketika semuanya berjalan mudah. Indonesia menang ketika pertandingan justru semakin sulit.


Ketika Thailand kehilangan satu pemain, Indonesia memang mendapatkan keuntungan numerik. Namun ketika Thailand berbalik unggul 2-1 pada babak tambahan, tekanan justru berada di pundak Garuda.


Dalam situasi tersebut, Indonesia membutuhkan karakter.


Dan karakter itu muncul melalui gol Baggott pada menit ke-116 serta ketenangan para eksekutor penalti.


Bahkan Presiden Prabowo Subianto yang menyaksikan pertandingan langsung di SUGBK ikut merayakan kemenangan tersebut. Usai pertandingan, Prabowo menyatakan kebanggaannya terhadap perjuangan para pemain yang tidak menyerah hingga detik-detik terakhir.


Trofi kemudian diserahkan kepada kapten Indonesia Kevin Diks dalam seremoni yang turut dihadiri Presiden FIFA Gianni Infantino.


Sejarah Baru Garuda


Malam 5 Oktober 2026 akhirnya tercatat sebagai salah satu malam penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.


Indonesia bukan hanya mengalahkan Thailand.


Indonesia memutus penantian.


Indonesia melewati drama 120 menit.


Indonesia memenangkan adu penalti.


Dan yang paling penting, Indonesia menjadi juara pertama FIFA ASEAN Cup 2026.


Dari Dean James hingga Elkan Baggott. Dari 11 pemain di lapangan hingga Emil Audero di bawah mistar. Dari menit pertama sampai penalti terakhir.


Semuanya berujung pada satu kesimpulan:


Garuda akhirnya terbang paling tinggi di Asia Tenggara.


Thailand sudah memberikan perlawanan habis-habisan.


Tetapi malam itu, trofi FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi milik Indonesia.